Beranda > Laporan > Lubang-Lubang Pembantaian

Lubang-Lubang Pembantaian

Di antara kegemaran PKI yang terkenal adalah membantai para korbannya di sumur tua, kemudian ditimbun dengan tanah. Di sejumlah tempat di Magetan dan Madiun, terdapat beberapa sumur-sumur tua yang menjadi tempat pembantaian.

Sumur tua Desa Soco
Soco adalah sebuah desa kecil yang terletak hanya beberapa ratus meter di sebelah selatan lapangan udara Iswahyudi. Desa Soco termasuk dalam wilayah Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Dalam peristiwa berdarah pemberotakan PKI tahun 1948, Soco memiliki sejarah tersendiri.

Di desa inilah terdapat sebuah sumur tua yang dijadikan tempat pembantaian oleh PKI. Ratusan korban pembunuhan keji yang dilakukan PKI ditimbun jadi satu di lubang sumur yang tak lebih dari satu meter persegi itu.

Letak Soco yang strategis dan dekat dengan lapangan udara dan dipenuhi tegalan yang banyak sumurnya, menjadikan kawasan itu layak dijadikan tempat pembantaian. Apalagi desa ini juga dilewati rel kereta lori pengangkut tebu ke Pabrik Gula Glodok, Pabrik Gula Kanigoro dan juga Pabrik Gula Gorang-gareng. Gerbong kereta lori dari Pabrik Gula Gorang-gareng itulah yang dijadikan kendaraan mengangkut para tawanan untuk dibantai di sumur tua di tengah tegalan Desa Soco.

Di sumur tua desa Soco ditemukan tak kurang dari 108 jenazah korban kebiadaban PKI. Sebanyak 78 orang diantaranya dapat dikenali, sementara sisanya tidak dikenal. Sumur-sumur tua yang tak terpakai di desa Soco memang dirancang oleh PKI sebagai tempat pembantaian massal sebelum melakukan pemberontakan.

Beberapa nama korban yang menjadi korban pembantaian di Desa Soco adalah Bupati Magetan Sudibjo, Jaksa R Moerti, Muhammad Suhud (ayah mantan Ketua DPR/MPR, Kharis Suhud), Kapten Sumarno dan beberapa pejabat pemerintah serta tokoh masyarakat setempat termasuk KH Soelaiman Zuhdi Affandi, pimpinan Pondok Pesantren ath-Thohirin Mojopurno, Magetan.

Di Soco sendiri terdapat dua buah lubang utama yang dijadikan tempat pembantaian. Kedua sumur tua itu terletak tidak jauh dari rel kereta lori pengangkut tebu. Para tawanan yang disekap di Pabrik Gula Rejosari diangkut secara bergiliran untuk dibantai di Desa Soco. Selain membantai para tawanan di sumur Soco, PKI juga membawa tawanan dari jalur kereta yang sama ke arah Desa Cigrok. Kini, desa Cigrok dikenal dengan nama Desa Kenongo Mulyo.

Terungkapnya sumur Soco sebagai tempat pembantaian PKI bermula dari igauan salah seorang anggota PKI yang turut membantai korban. Selang seratus hari setelah pembantaian di sumur tua itu, anggota PKI ini mengigau dan mengaku ikut membantai para tawanan.

Setelah diselidiki dan diinterogasi, akhirnya dia menunjukkan letak sumur tersebut. Sekalipun letak sumur telah ditemukan, namun penggalian jenazah tidak dilakukan pada saat itu juga, tapi beberapa tahun kemudian. Hal ini disebabkan oleh kesibukan pemerintah RI dalam melawan agresi Belanda yang kedua.

Sekitar awal tahun 1950-an, barulah sumur tua desa Soco digali. Salah seorang penggali sumur bernama Pangat menuturkan, penggalian sumur dilakukan tidak dari atas, namun dari dua arah samping sumur untuk memudahkan pengangkatan dan tidak merusak jenazah. Penggali sumur dibagi dalam dua kelompok yang masing-masing terdiri dari enam orang.

Menurut Pangat, mayat-mayat yang dia gali pada waktu itu sudah dalam keadaan hancur lebur seperti tape ketela. Daging dan kulit jenazah hanya menempel sedikit diantara tulang-belulang. Di kedalaman sumur yang sekitar duabelas meter, regu pertama menemukan 78 mayat, sementara regu kedua menemukan 30 mayat. Semua jenazah dihitung hanya berdasarkan tengkorak kepala, karena tubuh para korban telah bercampur-aduk sedemikian rupa.

Sumur tua Desa Bangsri
Diantara sejumlah sumur tempat pembantaian yang digunakan PKI di sekitar Magetan, sumur tua desa Bangsri merupakan tempat yang paling awal. Sumur tua ini terletak di tengah tegalan ladang ketela di Dukuh Dadapan. Sekitar 10 orang korban PKI dibantai di sini. Kebanyakan adalah warga biasa yang dianggap menentang atau melawan PKI.

Para korban pembantaian di Bangsri berasal dari Desa Selo Tinatah, dan berlangsung sebelum pemberontakan 18 September 1948 dimulai. Mereka yang tertangkap PKI kemudian ditahan di dusun Dadapan. Beberapa hari menjelang hari H pemberontakan, para tawanan pun disembelih di lubang pembantaian di tengah tegalan.

Sumur tua Desa Cigrok
Sumur tua di Desa Cigrok ini hampir sama dengan sumur tua di Desa Soco, sama-sama tidak terpakai lagi. Sebagaimana kepercayaan masyarakat setempat yang pantang menimbun sumur setelah tidak digunakan lagi, sumur tua Desa Cigrok demikian pula. Tidak ditimbun, kecuali tertimbun sendiri oleh tanah.

Sumur tua Desa Cigrok terletak di rumah seorang warga desa bernama To Teruno. To Teruno sebenarnya bukanlah anggota PKI, justru dialah yang melaporkan kekejaman PKI di sumur miliknya itu kepada kepala desanya. Salah seorang korban PKI di sumur tua Cigrok adalah KH Imam Shofwan, pengasuh Pesantren Thoriqussu’ada Rejosari, Madiun. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali. Bahkan ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan sempat mengumandangkan adzan. Dua putra KH Imam Shofwan, yakni Kyai Zubeir dan Kyai Bawani juga jadi korban dan dikubur hidup-hidup secara bersama-sama.

Sebanyak 22 orang yang menjadi korban pembantaian di sumur tua Desa Cigrok. Selain KH Imam Shofwan dan dua puteranya, terdapat pula Hadi Addaba dan Imam Faham dari Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran. Imam Faham adalah adik dari Muhammad Suhud, paman dari Kharis Suhud.

Imam sebenarnya ikut mengawal KH Imam Mursjid ketika diciduk dari pesantrennya, namun di tengah jalan mereka terpisah. Jenazah Imam Faham akhirnya ditemukan di sumur tua itu, sementara jenazah KH Imam Mursjid hingga kini belum ditemukan.

Sumur tua Desa Kresek
Selain beberapa sumur di Magetan, tempat pembantaian korban kebiadaban PKI di Madiun juga ditemukan di sebuah lubang di Dusun Kresek, Desa Dungus. Di lubang pembantaian di tepi bukit ini ditemukan 17 jenazah. Mereka diantaranya adalah perwira militer, anggota DPRD, wartawan dan masyarakat biasa.

Pembantaian di dusun Kresek dilakukan PKI karena posisinya telah terjepit oleh pasukan Siliwangi. Sementara itu, mereka tersesat di Kresek dalam perjalanan menuju Kediri. Karena tidak sabar membawa tawanan sedemikian banyaknya, mereka pun melakukan pembantaian di tepi bukit lalu menimbunnya di sebuah sumur tua. Terungkapnya sumur ini sebagai tempat pembantaian bermula dari laporan seorang janda warga Desa Kresek yang mengaku melihat terjadinya peristiwa keji itu.

Kini, di Kresek telah dibangun monumen dan tugu peringatan atas kekejaman PKI pada tahun 1948 dulu. Sebagaimana monumen di Desa Soco, monumen keganasan PKI di Kresek juga dibangun untuk mengingat keganasan PKI dalam membantai lawan-lawan politiknya, dengan harapan paham itu tidak lagi bangkit kembali di bumi pertiwi.

Categories: Laporan Tag:
  1. lucu
    07/03/2009 pada 06:57 | #1

    Nah begitulah ajaran pki

    Hal kayak gini koq mau dilindungi

  2. 14/03/2009 pada 21:24 | #2

    Salam, aku orang cigrok (kenongomulyo), desa damai, rukun dan sejahtera, bukan hanya anti komunis tetapi juga anti hal-hal yang dilarang agama,

  3. 23/03/2009 pada 18:52 | #3

    kejamna pki…

    apalagi sudah membunuh 7 jendral yang tidak mau nenandatangani “Dewan Jendral”

    KEJAMMM

  4. orcha
    19/04/2009 pada 00:25 | #4

    pki no

  5. Rustam
    23/04/2009 pada 14:57 | #5

    PKI ? Mampus aja kalian ! Dsr kafir !

  6. iori
    09/05/2009 pada 22:18 | #6

    PKI ada di sekitar kita,waspadalahh!!!!!!!!
    situs komu

    pki ada di sekitar kita wasapalah!!!
    kunjungi situs pergerakakannya!!!
    http://www.indomarxist.co.nr

  7. ahmad
    15/06/2009 pada 22:20 | #7

    orang yang dibunuh oleh PKI tidak seberapa jumlahnya dibandingkan dengan orang2 yg dicap PKI lalu dibantai tanpa alasan setelah G 30 S. anak2 dan cucu2 mereka yg tidak berdosa ikut menanggung akibatnya,hanya oleh kepintaran skenario orde baru menyebabkan seakan PKI itu kejam dan tidak bermoral . bukankah Komunis itu juga sebuah faham yg tujuaanya baik ?

  8. Adrian
    22/06/2009 pada 04:45 | #8

    yang namanya PKI itu Partai kan ?.. Yang namanya Partai itu gede lagi.. Orangnya banyak.. Belum termasuk Orang Partai lain nyusup ngaku2 PKI.. Siapa nuduh siapa ? Jangan sampai ikutan salah lihat.. Yang benar pasti akan benar.. Telitilah semua

  9. mas guru di sragi-PKL
    03/07/2009 pada 15:42 | #9

    apapun dalihnya, PKI tetap tdk boleh ada lg. komunisme pd akhirnya kejam. awalnya memang demi rakyat tertindas tp kalo dah pegang kuasa, rakyat itu sendiri yg dideritakan.

  10. isdianto yuli
    25/08/2009 pada 13:38 | #10

    pki itu gak boleh ada di bumi indonesia,mampus loe

  11. Aditya
    29/09/2009 pada 10:30 | #11

    PKI memang kejam, tapi pembrantasan yang dilakukan negara terhadap anggota PKI plus sampai anak dan cucunya jauh lebih kejam dan tak beradab. Kalau mereka anggota PKI, mungkin aja mereka hanya rakyat kecil yang tertipu oleh janji manis PKI. Jika memang ingin membrantas PKI sampai akarnya, bukan dengan cara membunuh semua orang yang di “CURIGAI” sebagai anggota PKI bahkan sampai keluarganya plus anaknya yang gak tau apa itu PKI ikut dipenggal kepalanya. Jadi, menurut saya, pembrantasan yang dilakukan oleh bangsa dan negara terhadap orang2 yang dicurigai sebagai PKI adalah tindakan Imoral tanpa pikir panjang dan sangat tidak adil…

  12. siva zamrutin nisa
    14/11/2009 pada 11:30 | #12

    kafir laknatullah !!!!!!!

  13. 15/11/2009 pada 08:45 | #13

    Orang yg dulu dibantai pki,insya allah masuk surga,karena sahid,amien…
    Mungkin pki sendiri anggotanya kebanyakan rakyat biasa yg ikut2an karena tergiur janji2 manis partai,tp 9 tau apa yg mereka lakukan trnyata malah menyengsarakan saudara sndiri

  14. Copiee
    28/11/2009 pada 23:00 | #14

    Bnyk org yg msk ke PKI tnpa tau arti komunis sesungguhnya, mereka beragama tp tergiur dgn janji2 manis PKI dan hny ikut2an. Tp mrka mlh iktan dibante, ironis sx.

  15. Daisy
    28/11/2009 pada 23:02 | #15

    jgn asal mencap dan menjelek”kan, tliti dlu kebenarannya.

  16. Ahmad . . Ird
    20/02/2010 pada 13:57 | #16

    Pki keparat

  17. arief
    24/03/2010 pada 18:52 | #17

    pki tidak boleh hidup lagi di indonesia. harus diberantas tuntas.

  18. jack
    31/03/2010 pada 19:12 | #18

    yang jelas pki itu komunis titik

  19. bejo Onthel
    12/04/2010 pada 15:01 | #19

    Smoga Allah senantiasa memberi tempat yang layak bagi korban PKI. dn memmenjadi Khusnul Khotimah.klo PKI nya………… Byar Allah yg menghukum ssuai apa yg ea perbuat

  20. Kiem Kaphwan
    09/05/2010 pada 17:39 | #20

    Yang adil tuh gini, yang membunuh harus dibunuh

  21. Sugiarto
    18/05/2010 pada 23:06 | #21

    Jangan pada sok tahu. PKI itu cuma korban fitnah. Banyak baca dulu sebelum kasih komentar. Tentara dan Orde Baru yg mesti dikutuk!

  22. 21/06/2010 pada 21:37 | #22

    Semua tujuan yang meng atas namakan kepentingan rakyat kayak nya semua baik, tapi lu2 semua kena belajar & lihat betul2 ,sejarah perjuangan komunis di mana2 tempat banyak mengorbankan nyawa manusia ! idiologi ini bersumber dari cendekiawan non keTuhanan , jadi mesti tahu hasil panen akhir nya ya seenak perut nya ! yang penting menang & yang menang adalah benar ! lihat kisah kekejaman komunis di China NGERIII tak berprikemanusiaan sama sekali !!! pokok nya kalau komunis sampai berkuasa di Indonesia di jamin NGENESSSS bangsa ini …..melebihi regim Harto !

  23. Noel
    08/07/2010 pada 16:34 | #23

    TAu tuch kerjaan anggota DPR yg ke banyuwangi ngunjungi anggota PKI, dia kagak liat kejahatan PKI atau emang dia anggota PKI

  24. 15/07/2010 pada 12:46 | #24

    coba mana kasih liat foto2nya ke saya para korban kebiadaban PKI…….saya mo tau….kasih liat donk foto2 sumur2nya……lumayan buat pesugihan……

  25. 15/07/2010 pada 14:19 | #25

    NU SUDAH MINTA MAAF, KAPAN GILIRAN TNI?
    JAKARTA, (TNI Watch! 15/3/2000). Dalam sebuah acara “Talk Show” di
    TVRI kemarin (14/3), Presiden Abdurrachman Wahid secara terbuka menyatakan
    permintaan maafnya, atas tindakan pembunuhan sewenang-wenang terhadap
    anggota PKI, dan orang-orang yang dianggap komunis. Gus Dur mengakui bahwa
    memang orang-orang NU banyak terlibat dalam aksi pembantaian di seputar
    tahun 1965-1966. “Saya nggak pernah nutup-nutupi, memang begitu kok,”
    tegas Gus Dur.
    Sebagai mantan Ketua Umum NU, yang kebetulan menjadi Presiden,
    maka Gus Dur merasa perlu untuk meminta maaf. Menurut Gus Dur, belum tentu
    orang-orang yang dituduh komunis semuanya bersalah.
    Lebih dari itu, Gus Dur mengajak masyarakat untuk mendiskusikan
    kembali masalah G30S/PKI. “Perdebatan ini akan baik sekali bagi bangsa
    Indonesia,” tambah Gus Dur.
    Pada saat yang hampir bersamaan, di Gedung DPR terjadi unjuk rasa
    oleh sekelompok anak muda dari GPI (Gerakan Pemuda Islam). Mereka menuntut
    agar Pemerintah dan DPR tetap waspada terhadap bahaya komunisme. Unjuk
    rasa GPIini menunjukkan, bahwa penentang aliran komunisme masih banyak.
    Oleh sebab itu, keberanian Gus Dus meminta maaf pada anggota PKI dan
    keluarganya, merupakan wujud kebesaran jiwa Gus Dur.
    Pelaku utama pembantaian anggota PKI, sebenarnya adalah tentara,
    khususnya Angkatan Darat. Nah, tentara ini memanfaatkan anggota-anggota
    Banser, GP Anshor, sebuah organisasi massa pemuda di bawah NU. NU bersedia
    membantu tentara, karena terprovokasi oleh tentara, berdasar anggapan
    bahwa orang PKI itu atheis, anti Tuhan, dan seterusnya. Padahal semua
    anggota PKI beragama, bahkan banyak yang sudah haji. Ideologi komunis
    tidak ada kaitannya dengan religiusitas seseorang.
    Setelah NU dengan jiwa besar bersedia minta maaf, kini sedang
    ditunggu giliran pihak Angkatan Darat sebagai “dalang” pembantaian, untuk
    juga minta maaf. Kita cukup optimis, bahwa pimpinan TNI yang sekarang akan
    bersedia minta maaf. Meski tidak dalam waktu dekat.
    Kita pantas bersikap optimis atas kemauan pimpinan Angkatan Darat
    untuk minta maaf, berdasar alasan, bahwa yang menjadi pimpinan Angkatan
    Darat sekarang ini, boleh dibilang adalah generasi yang tidak terlibat
    padapembantaian PKI di masa lalu. Kini orang nomor satu di Angkatan Darat,
    adalah Jenderal TNI Tyasno Sudarto, yang lulus dari Akademi Militer tahun
    1970. Kalau Tyasno lulus tahun 1970, berarti ia masuk Akmil pada tahun
    1967, karena pendidikan di Akmil adalah tiga tahun. Dengan demikian pada
    tahun 1965, Tyasno masih duduk di bangku SMA (kini SMU). Demikian juga
    halnya dengan pimpinan AD yang lain, seperti Wakil KSAD Letjen TNI
    Endriartono Sutarto (lulus 1971), Danjen Kopassus Mayjen Sjahrir MS
    (1971), Pangkostrad Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah (1973), Pangdam Jaya
    Mayjen TNI Ryamizard Ryacudu (1974), Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Kiki
    Syahnakri (1971), dan lain-lain.
    Lulusan Akmil tahun 1970 dan seterusnya, boleh dikatakan “bersih”
    dari serangkaian aksi pembantaian terhadap PKI di masa lalu. Singkatnya,
    mereka tidak memiliki beban sejarah atas tragedi 1965, mulai dari G30S,
    hingga peristiwa-peristiwa berikutnya.
    Beda halnya dengan yang lulus tahun 1964 sampai 1967, bisa
    dipastikan tangan mereka “berlumuran darah”, akibat operasi-operasi
    pembantaian yang mereka lakukan. Maka ketika Wakil Ketua MPR Letjen TNI
    (Purn) Hari Sabarno, sempat memberi peringatan tentang masih adanya bahaya
    komunis, tak lama seusai Gus Dur minta maaf, bisa dipahami, karena Hari
    Sabarno adalah lulusan tahun 1967, angkatan yang masih sempat “mencicipi”
    darah anggota PKI. Bagi perwira yang pernah terlibat dalam pembantaian, di
    hati kecil mereka ada semacam ketakutan, jika suatu saat sejarah akan
    menggugat mereka.
    Yang paling menyolok adalah perwira Akmil lulusan 1964 dan 1965,
    karena setelah lulus, mereka langsung dimobilisasi untuk melakukan
    pembantaian. Bagi lulusan 1964 dan 1965 yang telah mencapai strata pati,
    bisa dipastikan pangkat jenderal yang mereka sandang, sebagian adalah
    karena “jasa” mereka membantai PKI. Jadi bagi lulusan tahun 1964 dan 1965
    yang telah mencapai jenderal, mereka harus ingat, bahwa mereka “hutang
    darah” pada anggota PKI, yang telah mereka bantai.
    Inilah daftar lulusan Akmil 1964 dan 1965, yang berhasil masuk
    strata pati, yang berarti masuk kategori “berhutang darah”.
    1964: Pieter Sitompul (alm.), Todo Sihombing (BAIS), Soebardi Suar (mantan
    Komandan Puster AD), E. Mangindaan (mantan Gubernur Sulut), Surjadi (mantan
    Wakil KSAD), FX Sudjasmin (mantan Wakil KSAD), CP Masengi, Tadjus Sobirin
    (Ketua Golkar DKI), Wijoto (mantan Aster KSAD), Monang Siburian (BAIS), Hadi
    Baroto (mantan JAM Intel), I Gusti K Manila (Sekjen Deppen dalam likuidasi),
    M Memet Rachmat (mantan Komandan Puspom), Pranowo (mantan Dirjen Imigrasi).
    1965: Arifin Tarigan, Joesman Jutam (mantan Gubernur Akmil), Daniel Toding
    (mantan Aslog KSAD), Sofjan Effendi (Sekjen Depdikbud), Budi Sujana (mantan
    Danrem Pontianak), Slamet Singgih (mantan Komandan Satgas Intel BIA),
    Purwantono (mantan Gubernur Akmil), Muchlis Anwar (mantan Aspers KSAD).
    Bambang Soembodo (mantan Aslog Kasum ABRI), Muzani Syukur (mantan Pangdam
    III/Siliwangi), Moch Maruf (mantan Kassospol ABRI), Namoeri Anom (mantan
    Pangdam VI/Tanjung Pura), Sjamsir Siregar (mantan Ka BIA), Soejono (mantan
    Kasum ABRI), Jacob Dasto (mantan Dubes di Malaysia), Tarub (anggota DPA),
    Imam Oetomo (Gubernur Jatim), Junus Josfiah (mantan Menpen), Cholid Gozali
    (mantan Asops Kasum ABRI), Haris Sudarno (mantan Pangdam V/Brawijaya), Theo
    Sjafei (anggota DPR F-PDIP), R Karjono (mantan Pangdam II/Sriwijaya), HR
    Garnadi (staf ahli Menko Polkam), Sulatin (mantan Kasdam Udayana), Abdul
    Muis Lubis (mantan Aslog KSAD), Kodjin (mantan Aspam KSAD), Jasril Jakub
    (mantan Komandan Paspampres), Ilyas jusuf (mantan Gubernur Akmil), Izak Take
    (mantan Kababek ABRI), dan Tamlicha Ali (mantan Sekjen Deptrans dan PPH). ***

  26. jho
    31/07/2010 pada 16:59 | #26

    blo’on aja yang ngeributin permintaan maaf bagi yang sudah ngebantai PKI, sampai sekarang ada ‘nggak dari PKI nya yang menyesal apalagi minta maaf..??????

  27. 31/07/2010 pada 21:35 | #27

    Hai yang menggunakan nama : ahmad, aditya, sugiharto, ardesign, dll yang sejenisnya..
    Kalian itu sudah termakan provokasi melalui tulisan para pki / anak pki yang dendam/ gerakan bawah tanah pki , yang sekarang gara – gara Gus Dur berulah , menyebabkan tumbuh subur dan berkembangnya paham pki lagi dibumi PANCASILA yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Cobalah renungkan bahwa RI ini oleh para pendirinya didirikan untuk orang yang ber-Ketuhanan sehingga orang yang berpaham KOMUNIS YANG TAK BERTUHAN jelas tak dapat/tak boleh hidup wilayah negara RI yang ber-Ketuhanan ini….tahu loe……!!!!!!!!!! apakah kalin mengalami dulu kebiadapan pki/komunis, baru sadar gitu ???? Lho barang kali kalian semua ini adalah antek-antek PKI ????? walaaaaaah kalao begitu tunggu kami yang tetap mempertahankan negara RI ber-PANCASILA ini mengadu nyawa dengan kalian yang pki/komunis/tidak ber-TUHAN…….tunggu aku….akan ku bantai sampai keakar-akarnya.

  28. 13/08/2010 pada 21:15 | #28

    Yang jelas PKI bangkit harus di gempur, nggak usah banyak argumen yang menyesatkan,karena tokoh-tokoh PKI dan keturunannya selalu memanfaatkan kelemahan bangsa kita ini yang mudah memaafkan kejadian2 tempo dulu yang nyaris mau di lupakan, kita baru dengar orang di bunuhi demi Idiologinya saja sudah mrinding apalagi melihatnya, yang jelas paham Komunis harus tetap kita waspadai, walaupun dengar2 PKI menyusup ke mana2 baik di Partai politik maupun LSM, serta yang mengatas namakan agama,organisasi karang taruna kepemudaan, karena secara nyata di dukuh kami karang tarunannya juga di komandani seorang X PKI.

  29. 13/08/2010 pada 21:47 | #29

    PKI itu paham kayalan/mimpinya orang2 yang tidak punya pekerjaan yang pasti untuk menghidupi keluarganya,tidak mungkin bisa berkembang di Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD’45 ini.Dan kalau kita perhatikan tulisan di atas yang agak minir itu aku jadi berpikir Wong TNI di minta untuk minta maaf sama PKI apanya yang di maapin, TNI bertindak tegas dan cekatan itu karena ya olah PKI itu sendiri, menurut saya tindakan TNI itu sangat jenius dan tepat karena pada waktu itu Pimpinan PKI,Gerwani,BTI,Pemuda Rakyat,Lekra dan anderbow2 lainnya selalu bertindak yang tidak manusiawi dan menekan, menyiksa sama yang lain Idiologinya,bahkan cenderung memutar balikan fakta ,dan merusak tatanan yang sudah mapan ditengah2 kehidupan masyarakat yang penuh ke luguan itu,maka sekarang tidak usah membangkit mbangkitkan PKI lagi yang penting mari kita bekerja keras membangun bangsa dan anak cucu kita nggak usah sok tahu,wong ngurus diri sendiri saja nggak becus kok sok tahu. Dan yang terpenting Bungkarno tetap kita hormati sebagai Bapak Proklamator dan Bapak Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Bangsa titik.

  30. MISS.X
    14/08/2010 pada 15:31 | #30

    KEJAM ZEKALI PKI

  31. ujang di malam minggu
    21/08/2010 pada 09:56 | #31

    berhati hatilah PKI itu akan datang lagi,waspadalah waspadalah jangan sampai terlena

  32. ujang di malam minggu
    21/08/2010 pada 09:58 | #32

    hancurkan PKI..jangan biarkan dia mengijak hargadiri bangsa indonesia lagi.

  33. sokran
    03/05/2011 pada 09:57 | #33

    Semuanya itu akibat ulah PKI. Coba kalau PKI tidak melakukan peristiwa 1948 atau apalagi puncaknya tahun 1965. mikir dooonk. Jadi pantas aja PKI di bumi hanguskan. Gara-gara PKI akibatnya banyak timbul korban, bahkan orng yg bukan PKI jadi korban pula.

  34. LINDA
    24/06/2011 pada 10:02 | #34

    tega bedd cehh,
    knp harus kyk gto.

  35. husin
    19/08/2011 pada 13:58 | #35

    Pokoknya yang namanya PKI itu harus mampus, tidak ada hak hidup, mereka itu bukan manusia

  36. joko
    26/09/2011 pada 11:44 | #36

    makanya Pancasila harus di pahami dan dilestarikan juga diamalkan agar ideologi lain yang tak sesy=uai dengan ke Indonesiaan tak masuk…

  37. andi
    30/09/2011 pada 12:28 | #37

    ngapaian minta maaf.dasr pki tetap aja pki.pki tahun 1948 emang anjing,bangsat.mana sisa pki gua bantai.

  38. Jend.H.M. Suharto
    04/10/2011 pada 19:14 | #38

    ,.hai kamu anak2 bangsa jangan pada bertengkar. Yang namanya PKI itu goblok-goblok. Coba kalo PKI itu pinter tentu Indonesia dah jd negara komunis. Perkara Gus Dur mau minta maaf?? Itu urusan Gus Dur,.lha wong Gus Dur itu otaknya nggak waras kok diikuti. Biarin aja Gus Dur,. gitu aja kok repot. Kalo Angkatan Darat dan TNI (terutama) disuruh minta maaf ??? Sori lah yauo gak sudi mas. Orang PKI yg saya bantai itu cuma sdikit mas. Coba kalo saya bantai semua,.. Kira2 brapa korbannya?? PKI itu parpol nomer 3 terbesar. Kalo parpol nomer 3 terbesar artinya anggotanya tidak kurang dr 10 juta. Coba yg sy bantai berapa???? Cuma 500 ribuan lah,. Artinya Suharto ini masih murah.,. Apa ente Pingin PKI dihabisin skalian apa??
    Kalo pingin,., bikin partai komunis lg., sy jamin tanpa TNI bergerak,pasti banyak yg akan tampil menghabisi PKI. Contohnya FPI,KOKAM dll. Kalo omongan sy mleset,. Boleh sunat burung sy sampe abis.,.hahahaha., (SUHARTO,PANGLIMA BESAR BERBINTANG 5,DARI YOGYAKARTA.)

  39. 28/11/2011 pada 17:45 | #39

    PKI partai SETAN!!!!

  40. 28/11/2011 pada 17:50 | #40

    PKI partai SETAN!!!! GO TO HELL!!! bisa2nya anggota dewan bikin acara; TEMU KANGEN DENGAN PKI….mau loe di bantai lg??? KERJA PAKE OTAK!! JANGAN PAKE DENGKUL!!

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.