Kurang lengkap rasanya memperbincangkan JIL tanpa menyelam di dalamnya. Sehari di Utan Kayu, Sabili berkesempatan melakukan itu, bersama Novriantoni, salah seorang aktivis JIL.
Acara “Kongkow Bareng Gus Dur” baru saja usai di Radio 68H. Acara dialog santai tiap Sabtu pagi pukul 10.00 itu memang menghadirkan Gus Dur sebagai nara sumber. Dipandu oleh Muhammad Guntur Romli, aktivis Jurnal Kalam juga aktivis JIL.
Beberapa orang pengunjung tampak berdialog kembali dengan Gus Dur walau tidak lagi on air. Mereka duduk dan berdiri di samping mantan presiden itu dan berbincang-bincang tentang berbagai hal. Ketika dialog usai, mereka pun bersalaman dan Gus Dur pun beranjak pergi diiringi beberapa pengawalnya.
Novriantoni masih terlihat santai di sebuah sudut Kedai Tempo. Di sampingnya, beberapa orang lelaki terlihat bersamanya. Mereka terlibat dalam obrolan seru. Masing-maisng duduk di bangku berwarna hitam. Di tengahnya terdapat sebuah meja berwarna senada. Meja kursi itu, dari bentuk dan tata letaknya memang dikhususkan bagi pengunjung kedai. Tempat tamu makan dan minum.
Terdapat beberapa meja kursi di seputar Kedai Tempo yang terletak di Jalan Utan Kayu No. 68 H tersebut. Para pengunjung acara kongkow-kongkow ini pun duduk di kursi kedai. Menyimak dengan serius perbincangan antara Guntur dan Gus Dur. Jumlah pengunjung tak menentu, kadang ramai dan kadang sepi. Seperti pagi itu, pengunjung kongkow tidak seberapa banyak. Namun tetap berjalan lancar.
Novriantoni kini tengah mempersiapkan agenda ulang tahun JIL yang ke-6. Ia terlihat sibuk sendiri. Maklum beberapa pentolan JIL kini tengah berada di luar negeri. Sebut saja Ulil Abshar Abdalla yang tengah studi di AS, Nong Darol Mahmada yang juga studi di Australia, Luthfi Assyaukani di Singapura, Burhanuddin di Australia dan Anick (web editor JIL) di India. Praktis kendali JIL untuk sementara berada di tangan Novi (panggilan akrabnya). Ia juga kini bertugas sebagai pengurus harian.
Ketika dihampiri, Novi tinggal ditemani dua orang kawannya. Salah seorang dari mereka bertubuh kurus ceking, berambut gondrong dengan topi kumal menutupi kepalanya. Lelaki ini memakai kaos oblong bertuliskan Jakar (Jaringan Kafir Liberal) di bagian depan.
Satunya lagi, seorang lelaki bertubuh kecil, rambutnya agak jarang di bagian depan. Kelihatannya ramah dan selalu senyum. Dia seorang simpatisan JIL alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Sedang lelaki bertubuh kurus dengan topi kumal itu, mengaku sebagai presiden Jakar.
Ketika Sabili memperkenalkan diri dan meminta waktu untuk bincang-bincang, dengan tegas Novi menolak. “Kami sudah tidak mau berurusan dengan Sabili maupun Hidayatullah (majalah Suara Hidayatullah). Kami juga tidak mau wawancara, terserah kalian mau menulis apa?” ujarnya. Dua orang rekan Novi tampak mengiyakan.
Namun setelah diyakinkan, aktivis JIL lulusan Pondok Modern Gontor ini akhirnya bersedia untuk diwawancarai atau lebih tepatnya diajak bincang-bincang. “Acara ulang tahun JIL yang akan berlangsung pada tanggal 22-24 Maret nanti, kebanyakan diisi diskusi dan pemutaran film. Temanya, seperti ini,” katanya seraya menyodorkan secarik kertas brosur. Di kertas itu tertulis, tahun ke-6 Jaringan Islam Liberal, tema diskusi “Agama dan Ruang Publik, Memperbincangkan Kembali Sekularisme” dan agenda diskusi selama tiga hari.
Ketika bincang-bincang baru berjalan beberapa menit, seorang laki-laki setengah baya mendatangi meja yang kami tempati. Dia menguluk salam dan memperkenalkan diri. Namanya, Suparmin Sunjoyo, mantan duta besar Indonesia di Suriname. “Bolehkah saya ikut bergabung? Saya sejak lama tertarik mengikuti pemikiran JIL melalui internet. Kebetulan di sini saya langsung bertemu dengan Anda semua. Saya sangat gembira,” ujarnya membuka percakapan.
Novi dan dua rekannya tampak manggut-manggut. Suparmin yang kini sibuk di dunia pewayangan setelah pensiun dari jabatan dubes juga mengaku intens mengikuti diskusi di JIL di Milis (mailing list). “Kebetulan kini banyak waktu luang, makanya saya akan sering datang ke sini,” katanya menambahkan.
Obrolan seru pun berlangsung. Temanya macam-macam, mulai dari agama hingga sekularisme, bahkan ateisme. Hampir tiga jam lamanya diskusi dan obrolan itu berjalan. Akhirnya sang mantan dubes beranjak pergi untuk suatu urusan, kemudian disusul oleh presiden Jakar. Tinggal Novi dan temannya yang alumni al-Azhar yang masih tersisa.
Aktivis JIL kelahiran Riau ini berkisah, keberadaaan JIL adalah untuk menindaklanjuti proyek pembaharuan Islam yang sudah ada. Novi juga tidak menampik keberadaan sosok Cak Nur yang turut menginspirasi JIL. “Kalau dulu di masa Cak Nur, mungkin perspektifnya tentang Islam itu inklusif, kita agak sedikit melangkah ke depan. Sedikit lebih kritis,” ujarnya.
Selain Cak Nur, beberapa tokoh yang turut menginspirasi JIL adalah Gus Dur, Munawir Sadjali maupun Harun Nasution. Menurut Novi, proyek pemikiran Islam itu tidak bisa dibangun dari nol total. Dia semacam mata rantai yang mestinya bersambung, tidak bisa putus. “Kalau proses pematangan berpikir Islam itu berjalan konsisten dan konstan, saya kira masyarakat tidak akan bisa dijejali dengan tafsiran-tafsiran Islam yang sederhana, ekslusif dan radikal.”
Gagasan tentang JIL dibicarakan pertama kali di Utan Kayu, tahun 2001 lalu. Pada waktu itu, Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukani, Goenawan Muhamad dan lain-lain, berkumpul untuk membentuk jaringan Islam liberal.
Selain markas JIL, Utan Kayu lebih dulu terkenal sebagai tempat kongkow-kongkow, teater, penerbitan jurnal Kalam, dan kantor Radio 68H. JIL mendapatkan tempat di sini walau tidak memiliki hubungan secara struktural dengan teater maupun radio. “Sulit mencari tempat yang konsisten membela kebebasan,” kata Novi.
Sebelumnya, Asia Foundation merupakan penyokong dana terbesar bagi JIL, namun sejak satu setengah tahun yang lalu, lembaga itu tidak lagi memberikan sumbangan. Bagi para aktivis JIL, terhentinya aliran dana dari Asia Foundation bukan suatu masalah. JIL masih banyak mendapatkan dana dari donatur-donatur lain, selain dari swadaya sendiri.
Lahir di Riau, 32 tahun silam Novriantoni menghabiskan pendidikan dasarnya di tanah kelahirannya. Setamat SD (Sekolah Dasar) dia melanjutkan sekolah ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Sebuah lembaga pendidikan Islam yang terkenal di Jawa Timur. Hingga kini lulusan Gontor banyak berkiprah di masyarakat maupun di pemerintahan. KH Hasyim Muzadi, Ketua PBNU dan Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyah termasuk diantaranya. Demikian pula dengan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dan Menteri Agama Maftuh Basyuni.
Enam tahun menempuh pendidikan di Gontor, pada tahun 1996 Novi berangkat ke al-Azhar, Mesir. Di universitas tertua di dunia itu ia melanjutkan studi pada Fakultas Ushuluddin. Tahun 2001 ia lulus dari sana. Kembali ke tanah air, Novi melanjutkan kuliah pasca sarjananya di Universitas Indonesia (UI). Ia mengambil jurusan sosiologi. Tahun 2005 ia merampungkan gelar S2-nya. Setelah itulah ia berkecimpung di JIL.
Novi kerap mengkritisi peran ulama masa kini yang baginya cenderung berubah menjadi qudoh (hakim) tinimbang berperan sebagai dai. Menurutnya, ulama itu seharusnya berposisi sebagai pencerah (dai) bukan qudoh. Ia mengutip pendapat tokoh Ikhwanul Muslimin Makmun Hudaibi, yang menyatakan nahnu du’ad wa lasna qudoh (kita adalah dai-dai bukannya hakim).
“Karena itulah perlunya sekularisme, pemisahan antara wewenang agama dan negara. Negara-negara yang masih teokratis itu adalah negara-negara yang membawa bencana lebih besar daripada negara-negara sekuler,” katanya. “Khilafah adalah utopia yang harus mulai ditinggalkan oleh umat Islam.”
Menurut Novi, kesatuan politik masa khilafah yang dibayangkan tidaklah sama antara teori dan prakteknya. Dalam teori, kelihatannya dari Kordova sampai India seakan-akan satu. Tapi sebetulnya perseteruan-perseteruan antara kelompok-kelompok yang otonom di negera khilafah itu juga berlangsung.
Klan Umayyah jelas akan berseteru dengan klan Abbasiyah. Orang Turki Seljuk juga akan berseteru dengan orang-orang Koptik di Mesir dan sebagainya. “Jadi khilafah itu tidak seideal yang dibayangkan oleh Hizbut Tahrir (HT),” ujarnya seraya mengutip buku karangan pemikir liberal Mesir, Muhammad al-Asmawi yang membahas hal tersebut.
JIL dikenal sebagai paham yang mengusung sekularisme, pluralisme dan liberalisme. FUUI (Forum Ulama Umat Islam) di bawah kepemimpinan KH Athian Ali Da’i, telah mengeluarkan semacam fatwa hukuman mati terhadap Ulil Abshar Abdalla, gara-gara tulisannya yang menyesatkan kalangan awam. Bahkan pada tahun 2005 lalu, dalam Munasnya yang ke-VII, MUI mengeluarkan fatwa tentang kesesatan JIL, sebagaimana kesesatan Ahmadiyah dan LDII.
Menurut MUI, pluralisme, liberalisme, dan sekularisme bertentangan dengan ajaran Islam. Realitas keberagaman, adalah pluralitas. Sedangkan pluralisme adalah paham bahwa semua agama sama benarnya dan kebenaran setiap agama adalah relatif. “Paham ini bisa mendangkalkan akidah,” ujar Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma’ruf Amin pada waktu itu.
Ulil Abshar Abdalla, ketika masih menjabat sebagai Koordinator JIL, menilai definisi MUI tentang sekularisme, liberalisme, dan pluralisme terlalu sederhana. “Memaknai sekularisme sebagai memisahkan urusan dunia dari agama jelas menggelikan,” katanya.
Menurut Ulil, definisi umum sekularisme adalah memisahkan kekuasaan kaum agama dan kekuasaan negara. Negara sekuler artinya negara yang tidak dikuasai ulama seperti Iran yang mengenal konsep wilayatul faqih (kekuasaan kaum ulama). “Sekularisme tidak menghalangi dan memusuhi peran agama dalam ruang publik,” imbuhnya.
Novi pun berpendapat senada dengan Ulil. Menurut dia, pluralisme dan pluralitas, yang membeda-bedakannya adalah sesuatu yang agak retoris. Pluralitas itu fakta tentang keragaman (agama, suku, etnik, budaya dll) yang semuanya berhak eksis di negeri ini. Pluralisme adalah paham yang menyokong tetap terselenggaranya keragaman itu dengan cara-cara damai dan beradab. “Bukan menyeragamkan,” ujarnya.
Karena dianggap keluar dari mainstream ajaran Islam, beberapa pihak menyarankan agar JIL membikin agama baru saja, tidak mengatasnamakan Islam. Namun hal ini ditolak mentah-mentah oleh Novi.
“Bikin agama baru? Anda mau tidak disuruh bikin agama baru? Mestinya Hizbut Tahrir juga disuruh bikin agama baru, MMI juga bikin agama MMI. Bagi kita Islam itu constested, dikontestasikan. Segmen pasarnya masing-masing, terserah Anda mau ambil pasar yang sebelah mana,” tandasnya.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Mentari pun telah condong ke arah barat. Pertanda senja akan segera datang. Novi meminta diri segera pulang. Suasana di Kedai Tempo yang memang sepi usai kongkow-kongkow dengan Gus Dur tadi, kian senyap. Tak seorang pun yang tampak.
Di halaman gedung parkir bagian depan. Hanya terlihat petugas keamanan tengah menikmati kesendiriannya sambil menjaga beberapa kendaraan yang masih parkir di halaman gedung. Dan hari itu pun berlalu di Utan Kayu.
Itulah hebatnya Gontor
bisa memproduksi segala “keperluan” Umat
Semoga kedepannya Novi
bisa sperti alumni2 Gontor yg jadi juru runding GAM n RI.
merekatkan umat.
bukan memecah belah.
Oleh: MieGontor on 25/04/2008
at 20:23