Oleh: Chairul Akhmad | 06/09/2007

Ketika Lembah Diserbu Massa

Merasa tuntutannya tidak terpenuhi, umat Islam Cianjur dan sekitarnya kembali berunjuk rasa ke Lembah Karmel. Konferensi Tritunggal Mahakudus (KTM) adalah pemicunya.

Shalat Jumat berjamaah baru saja usai di Masjid Agung Siti Hajar siang itu, namun para jamaah tidak langsung pulang. Sebagian dari mereka tetap berdiam di ruangan masjid yang cukup megah yang terletak di Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur. Sebagian yang lain berkumpul-kumpul di halaman sekitar masjid.Rencananya, mereka akan melakukan aksi unjuk rasa menolak diadakannya KTM di Lembah Karmel. Konferensi para pastor dan pendeta dari dalam dan luar negeri itu akan diselenggarakan beberapa hari kemudian. Tepatnya pada tanggal 25-29 Juli 2007.

Sebenarnya, beberapa ormas Islam di Cianjur telah berulangkali melakukan demonstrasi menolak keberadaan Lembah Karmel, namun belum mendapatkan hasil nyata. Kawasan wisata ruhani dan tempat pembinaan iman Katolik itu dianggap melanggar sejumlah aturan perundang-undangan. Aksi demo sehabis Jumatan ini adalah akumulasi dari kekecewaan mereka yang sebelumnya tak jua mendapatkan hasil.

Beberapa menit kemudian, rombongan umat Islam dari sekitar Cianjur dan Bandung mulai berdatangan. Mereka segera bergabung dengan jamaah yang telah berkumpul di Masjid Siti Hajar. Sebuah truk berisi sound system juga memasuki halaman masjid beberapa saat kemudian. Salah seorang pria segera menyambar mikropon yang telah disediakan kemudian meminta jamaah agar mendekat dan mendengarkan orasi sebelum keberangkatan ke Lembah Karmel. Massa pun mulai menurut.

Beberapa orang tokoh Islam dari MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), GARIS (Gerakan Reformis Islam), TMF (Taruna Muslim Foundation), Persis (Persatuan Islam), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) bergantian memberikan orasi. Ustadz Alfian Tanjung dari TMF meminta kesadaran umat Islam untuk mewaspadai gerakan-gerakan kaum Kristen yang gencar melakukan aksi pemurtadan. Salah satu contohnya, kata Alfian, adalah keberadaan Lembah Karmel. Seruan serupa juga disampaikan oleh H Chep Hernawan, Ketua Umum GARIS.

Beberapa saat kemudian massa yang berjumlah hampir 5.000 orang itu pun mulai bergerak ke Lembah Karmel yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Masjid Siti Hajar. Truk dengan sound system berjalan di barisan paling depan, diikuti massa yang bergerak pelan. Lantunan shalawat Badar menggema sepanjang jalan Mariwati yang menuju Lembah Karmel. Peserta aksi pun mengiringi shalawat yang kadang diselingi suara takbir itu.

Menjelang pertigaan jalan yang mengarah ke Lembah Karmel massa terhenti. Sebaris aparat kepolisian menghadang laju truk tepat di bawah gapura. Massa ngotot menerobos. Terjadi dorong-mendorong antara massa yang dibantu truk dengan polisi yang menghadang dengan saling berpegangan. Tak kuasa menahan laju truk, blokade polisi pun semburat. Bahkan kaki salah seorang anggota polisi terlindas roda truk. Sumpah serapah pun keluar dari mulutnya. Temannya yang lain segera meminggirkan anggota yang apes itu.

Sepasukan polisi lain dengan peralatan lengkap dengan tameng dan senjata gas air mata, tiba-tiba menyelinap masuk di sela-sela massa yang berjubel. Pasukan ini bergabung dengan rekan-rekan mereka yang berada pada zona blokade kedua, beberapa meter diatas blokade pertama. Pimpinan aksi, H. Chep Hernawan meminta truk dan massa berhenti di tempat. Lelaki yang juga termasuk orang terkaya di Cianjur itu meminta demonstrasi dilakukan di mana truk berhenti.

Sebagian massa tampak kecewa karena tidak bisa bergerak ke arah Lembah Karmel yang berjarak kurang lebih 500 meter dari lokasi. Blokade kedua yang digelar aparat kepolisian dari Polres Cianjur itu memang tampak kokoh dibanding blokade pertama di pertigaan jalan. Sebuah truk Dalmas turut nangkring di belakang blokade polisi. Tentu saja, truk pembawa sound system akan sulit menembusnya tanpa terjadi insiden karena jalan yang sempit dan menanjak.

Para orator yang tadi berorasi di Masjid Siti Hajar, kembali melanjutkan aksinya. Satu per satu mereka bergiliran menyampaikan tuntutan. Intinya sama, tolak acara KTM! “Kalau Lembah Karmel tetap ngotot melanjutkan acara konferensi itu, maka jangan salahkan jika terjadi pertumpahan darah,” teriak salah seorang orator yang disambut pekikan takbir peserta aksi.

Massa pun kembali ngotot menerobos ke Lembah Karmel. Suasana mulai memanas, aparat dan massa kembali saling dorong. Teriakan orator di atas truk seolah membakar semangat massa yang beraksi di bawah terik matahari itu. Tiba-tiba Chep Hernawan berteriak lantang dan mencoba menenangkan massa.

Dia mengaku telah mendapatkan telpon dari Mabes Polri bahwa izin KTM ditolak, sehingga aksi unjuk rasa tak perlu dilanjutkan. “Tenang saudara-saudara, kita tidak perlu ke Lembah Karmel, karena izin konferensi telah ditolak oleh Mabes dan Mendagri,” teriak Chep di tengah keriuhan suasana.

Sebagian peserta aksi tidak setuju dan meminta Chep tidak terpancing oleh berita bohong. Namun, Chep menegaskan bahwa telpon yang diterimanya dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, dia meminta anak buahnya segera mundur. Sebagian orang tetap menolak, mereka butuh penjelasan resmi dari pihak Lembah Karmel. Mereka juga meminta aparat kepolisian menghadirkan perwakilan Lembah Karmel guna dimintai keterangannya. Sayang, permintaan itu ditolak polisi.

Massa kembali bergolak. Di tengah suasana yang kian kacau itu, salah satu Ketua MUI Cianjur, H. Cepi Jauharuddin, ikut menenangkan keributan. Pria setengah baya dengan sorban hitam menghias kepalanya itu naik ke truk dan meminta hadirin untuk tenang. “Kita tidak menginginkan hal-hal buruk terjadi. Kekompakan umat Islam harus tetap dijaga, jangan sampai dinodai oleh tingkah atau perilaku yang tidak layak dan tidak semestinya,” ujar Cepi yang disambut teriakan sinis peserta demo.

Menurut Cepi, sebagai orangtua, dirinya merasa senang dengan unjuk rasa ini, karena umat Islam masih memiliki semangat juang yang tinggi untuk tegaknya syariat Islam di bumi Cianjur. “Kita akan duduk satu meja dan memanggil orang-orang Karmel untuk membicarakan masalah ini agar tidak terjadi lagi kebohongan-kebohongan,” katanya.

Begitu Cepi turun dari truk, suasana bertambah kacau. Chep Hernawan, Cepi Jauharuddin dan Kapolres Cianjur, AKBP Syaiful Zachri dan beberapa pengunjuk rasa melakukan negosiasi. Beberapa orang berteriak meminta fax atau pemberitahuan resmi tentang pembatalan dari Mabes Polri sebagaimana yang dikatakan Chep Hernawan. Mereka kembali meminta aparat kepolisian menghadirkan perwakilan Karmel saat itu juga. Namun hal ini ditolak Kapolres. “Saya harus menunggu petunjuk dari Kapolda dan Kapolri bagaimana keputusan beliau-beliau. Yang realistis dong, masak saya harus telpon Kapolda sekarang,” kata Kapolres bertubuh tinggi itu.

Massa ngotot dan marah. Salah seorang dari mereka bahkan hampir mendaratkan pukulan ke arah Kapolres, namun keburu dicegah oleh rekannya yang lain. Chep Hernawan mencoba menenangkan mereka kembali. Dia berjanji, bahwa besok Senin (23/7/2007) akan dilakukan pertemuan dengan ormas Islam dengan para anggota Muspida, maupun pihak Karmel, guna membahas tuntutan mereka.

Syaiful Zachri juga meminta massa segera membubarkan diri. “Kita tidak usah berpanas-panasan di sinilah, kita harus realistis dan mencari jalan keluar. Mari kita bicara di kantor kecamatan,” katanya menawarkan, namun ditolak. Alfian Tanjung berteriak di mikropon, “Jangan mau di-briefing polisi, karena akan jadi blunder. Akhirnya menjadi pengarahan-pengarahan!”

Chep Hernawan kembali naik truk dan menenangkan peserta demo yang terlanjur kecewa. Dia dapat memahami bahwa Polres Cianjur memang tidak memenuhi kapasitas untuk menghadirkan Karmel. “Kita tidak boleh mengedepankan sikap emosional. Jangan kotori perjuangan kita dengan sikap emosional. Perjuangan kita lillahi ta’ala. Perhatian semua, komando dari saya, maka sekarang mundur semuanya!” teriaknya lantang.

Sekitar pukul 15.20 WIB massa pun kemudian beranjak meninggalkan lokasi setelah sebelumnya ditutup dengan doa oleh Alfian Tanjung. Walau masih menyimpan kekecewaan karena aksi mereka terpotong di tengah jalan, dengan tertib mereka kembali ke Masjid Siti Hajar.

Sebelumnya, Konsorsium Umat Islam (KUI) Kabupaten Cianjur mengeluarkan pernyataan sikap terkait dengan rencana KTM di Lembah Karmel. Ada tiga poin tuntutan KUI tersebut. Pertama, meminta Bupati Cianjur, Mabes Polri dan Mendagri agar tidak menyetujui diselenggarakannya KTM pada tanggal 25-29 Juli 2007 di Lembah Karmel. Kedua, Komponen umat Islam Kabupaten Cianjur menolak kehadiran Lembah Karmel yang berlokasi di Kampung Cikanyere, Sukaresmi. Ketiga, meminta pimpinan Lembah Karmel segera menutup segala bentuk aktivitasnya.

Sementara itu, pihak Lembah Karmel menolak tuntutan warga agar membatalkan acara KTM tersebut. Menurut kuasa Lembah Karmel, Suster Lisa, acara konferensi itu adalah acara doa bersama. “Mengapa orang berdoa dilarang? Konferensi ini tidak mungkin dibatalkan,” kata Lisa kepada para wartawan, seusai demonstrasi.

Suster Lisa juga mengaku telah menyuruh utusan ke Mabes Polri dan telah mendapatkan izin dari otoritas tertinggi kepolisian di Indonesia itu. Walau demikian, ada beberapa syarat yang harus dilengkapi, seperti masalah passport peserta yang dari luar negeri. “Acara tetap dilanjutkan walaupun ada tantangan dan rintangan, tidak bisa mundur. Rasanya, saya lebih bersalah kepada Tuhan kalau melarang orang yang mau berdoa bersama-sama,” ujarnya.

Menurut Suster Lisa, acara konferensi itu sebetulnya hanya semacam pendalaman iman yang diadakan tiap empat tahun sekali. Dan saat ini adalah yang kedua. “Saya akan tetap melanjutkan hal itu. Karena ini pertemuan penting untuk membagi dan menguatkan iman bersama,” kata Lisa tegas.

Juru bicara Lembah Karmel ini juga menyebut acara demonstrasi itu sebagai sebuah aksi yang menyedihkan dan memalukan. Adapun negara-negara peserta konferensi antara lain dari Amerika, Australia, Singapura dan Vatikan. Jumlah peserta konferensi yang semula 2.500 orang menurun menjadi 1.500 orang ketika mendengar ada aksi penolakan.

Tiga hari kemudian, tepatnya Senin (23/7/2007) di Mapolres Cianjur, sebagaimana dijanjikan, diselenggarakanlah pertemuan guna membahas Lembah Karmel. Dalam pertemuan itu, disepakati bahwa acara KTM dibatalkan. Pertemuan yang dihadiri para anggota Muspida Cianjur minus Bupati, ormas-ormas Islam termasuk GARIS, MUI Cianjur dan pimpinan Lembah Karmel itu berlangsung lancar. Pimpinan Lembah Karmel, Romo Yohanes, yang menegaskan tentang pembatalannya.

Fokus pertemuan itu memang membahas masalah KTM, namun juga mengarah pada kegiatan Karmel selama ini. Terkait dengan pelanggaran-pelanggaran yang dituduhkan, pihak Karmel mempersilakan dibentuk tim investigasi yang bertugas untuk melakukan penyelidikan. Romo Yohanes mengaku tidak tahu-menahu tentang teguran Bupati Cianjur, juga tidak tahu apa-apa tentang aturan-aturan dan prosedur yang berlaku.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori