Para saudagar Aceh ternyata tidak hanya mahir dalam berniaga, mereka juga menggelar kongres. Tujuannya, membangkitkan kembali kejayaan mereka di ranah ekonomi.
Pagi itu, suasana di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh terlihat semarak. Aparat keamanan dari unsur TNI/Polri terlihat ketat menjaga gedung maupun seputaran kampus. Lalu-lalang aparat dengan senjata lengkap itu seakan mengingatkan kembali memori warga Tanah Rencong akan Daerah Operasi Militer (DOM) yang pernah berlaku di sana.
Namun pemandangan di pagi yang cerah, Sabtu dua pekan lalu itu, bukanlah aksi operasi darurat militer. Ratusan personil TNI/Polri ini dikerahkan untuk mengamankan jalannya Kongres Saudagar Aceh Serantau (KSAS) yang dibuka oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla.
Seribuan lebih saudagar Aceh termasuk yang lama menetap di luar negeri, kembali ke daratan negeri Iskandar Muda. Hajatan besar yang disebut kongres serantau itu digelar sebagai upaya membangkitkan kembali kejayaan saudagar Aceh tempo dulu yang sukses merambah ke berbagai penjuru dunia. Kongres ini berlangsung mulai 27 hingga 29 Juli 2007.
Geliat bisnis para saudagar ini sempat mengalami kelumpuhan kala terjadi pergolakan di Aceh. Belum lagi tsunami yang melumpuhkan secara total sendi-sendi perekonomian Bumi Serambi Makkah. Dengan berkongres, kejayaan masa lalu hendak diulang kembali. Meski tidak sama, namun ketangguhan para saudagar Aceh masa lalu yang berjaya ke penjuru dunia, dapat dijadikan titik tolak kebangkitan saudagar muda demi terwujudnya Aceh yang baru. Sejumlah saudagar Aceh dari Malaysia, Singapura, Australia, Turki dan Amerika hadir di acara tersebut.
Catatan gemilang sejarah saudagar Aceh juga disinggung oleh Wapres Jusuf Kalla dalam sambutannya kala membuka acara tersebut. “Semangat tempur masyarakat Aceh, meski ditranspormasikan ke dalam semangat wirausaha untuk kembali membangun negeri ini,” kata Wapres.
Wapres juga mengingatkan, bahwasannya kemajuan suatu bangsa itu diukur dari kemajuan ekonominya. Suatu negara, dihargai dan memiliki tempat yang tinggi bila pertumbuhan ekonominya baik. Kemajuan ekonomi itu sendiri adalah pertumbuhan yang hanya dapat dilaksanakan apabila bangsa dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan produktivitas kepada bangsanya.
Masa awal kemerdekaan Indonesia, tidak terlepas dari kontribusi masyarakat Aceh. Tahun 1948, pemerintah Indonesia yang saat itu dipimpin Soekarno, sangat berkeinginan membeli pesawat terbang. Maka, atas kemurahan rakyat Aceh, terkumpullah perhiasan emas untuk membantu Jakarta mewujudkan hasratnya. Dikordinasikan oleh Gasida (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh), orang Aceh menjual perhiasan emas untuk pembelian kapal terbang dalam rangka missi perjuangan kemerdekaan, yang kemudian menjadi cikal bakal Garuda Indonesia. Dan inilah awal mula emas Aceh terbang ke Jakarta.
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, berharap kongres ini dapat dijadikan titik tolak atau awal kebangkitan kembali para Saudagar Aceh dalam memperteguh jatidirinya sebagai pengusaha. “Ini satu kebangkitan saudagar Aceh, karena dulu para senior kita pernah gemilang, tidak hanya tingkat lokal tetapi di kancah nusantara dan dunia,” katanya.
Irwandi meminta para saudagar Aceh saat ini tidak larut dan terjebak dengan kegemilangan sejarah masa lalu. “Prestasi dan kegemilangan pernah dicapai para saudagar Aceh terdahulu, hendaknya menjadi pemicu bagi pelaku bisnis saat ini,” ujarnya.
Kongres pertama ini juga merupakan ajang pertemuan para saudagar Aceh yang sukses berusaha di luar daerah, termasuk di luar negeri. Pemikiran dan kiat sukses mereka selama ini diharapkan bisa membangkitkan semangat saudagar Aceh dalam mengembangkan usaha bagi kemajuan perekonomian masyarakat.
“Memang tidak semudah membalik telapak tangan, tapi yang penting kita berupaya mencari solusi mempercepat kemajuan ekonomi masyarakat Aceh,” kata ketua panitia pelaksana kongres saudagar Aceh serantau H Firmandez.
Peserta kongres akan membahas beberapa persoalan strategis sehubungan dengan perkembangan dan kemajuan ekonomi daerah yang pernah dilanda konflik berkepanjangan ini. Terutama sarana dan infrastruktur beberapa pelabuhan, masalah energi dan upaya memangkas birokrasi pengurusan surat menyurat terkait penanaman modal usaha. Para peserta kongres juga akan memberi masukan kepada lembaga berwenang agar memprioritaskan pembuatan Peraturan Daerah (Perda/Qanun) yang terkait dengan dunia usaha, sehingga dapat berlaku efektif pada tahun 2008.
Salah seorang pengusaha Aceh, Nova Iriansyah yang turut ikut kongres berharap usaha para saudagar ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui berbagai kegiatan, baik melalui penanaman investasi maupun perdagangan ekspor-impor melalui Pelabuhan Bebas Sabang.
Pertemuan saudagar Aceh serantau ini akan menjadi bermakna, apabila seluruh komponen masyarakat bersatu memberikan masukan bagi kemajuan Aceh di masa mendatang. Semoga geliat usaha di Aceh kian tumbuh dan berkembang di masa datang.