Oleh: Chairul Akhmad | 06/09/2007

Menghentikan Maksiat di Bulan Berkat

Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh ampunan. Saatnya, meninggalkan maksiat di bulan yang salah satu malamnya, lebih berharga dari seribu bulan.

Petang baru merangkak. Malam belum lengkap benar. Di barat, masih tersisa pancaran sinar matahari yang belum sepenuhnya tenggelam. Wanita itu telah bersiap-siap menyambut kelam, menyambung hidup dengan menjual tubuh. Menikmati kehangatan pelukan lelaki demi lembaran rupiah.

Sandy (buka nama sebenarnya), tengah mengakhiri penampilan dan make up-nya dengan polesan lipstick merah di bibirnya yang tipis. Perempuan cantik yang tinggal di salah satu perkampungan padat di Jatinegara, Jakarta Timur ini, kemudian bergegas melangkah keluar. Dia menyempatkan diri menyapa tetangga dan warga kampungnya ketika berpapasan di gang sempit yang membelah kampung.

Sebuah tas cangklong dari kulit berwarna hitam, ia tenteng di bahu kiri. Dengan sepatu hak setinggi 5 cm Sandy berjalan tenang dan anggun. Sayup-sayup suara azan Maghrib di kejauhan tak menarik perhatiannya. Sebuah janji telah ia kantongi. Kencan dengan pelanggan di sebuah hotel kelas Melati. Tak seberapa jauh dari tempat tinggalnya.

Sandy adalah salah satu diantara ratusan, bahkan mungkin ribuan wanita penjaja cinta lainnya. Perempuan 27 tahun ini, telah lima tahun lamanya bergelut dalam bisnis umbar syahwat. Dia mengaku tak menyesal, terjerumus dalam kubangan dosa. “Biarlah saya melakukan pekerjaan yang bagi orang dianggap nista ini, semampu dan sekuat saya,” kata pemilik lesung pipit kelahiran Cianjur ini.

Patah hati, kecewa dan ditinggal kekasih adalah alasan utama, mengapa Sandy rela melacurkan diri. Pria pujaannya itu merenggut kegadisannya, lalu meninggalkannya begitu saja di belantara ibukota. Tak ada bekal pulang ke kampung, dia pun terdampar di kerasnya kehidupan Jakarta. Bekerja sebagai penjaja seks akhirnya dia jalani, karena tak punya keahlian lain. Berbekal kecantikan wajah, Sandy pun sukses meraup rupiah dari transaksi pemenuhan syahwat.

Ketika disinggung bahwa bulan Ramadhan akan segera datang, adakah ia akan menghentikan petualangannya? Tegas Sandy menjawab, tidak! “Saya telah melalui banyak bulan puasa tahun-tahun sebelumnya dengan tetap bekerja. Kalau puasa tahun ini saya tidak bekerja, emang situ mau gaji saya,” ujarnya sinis.

Ramadhan memang bukan jaminan kemaksiatan dapat dihentikan. Begitu pula yang terjadi dengan Rudi (juga bukan nama sebenarnya). Akuntan pajak di salah satu perusahaan kosmetik yang berkantor di Cibubur, Jakarta Timur ini mengaku tak ambil pusing dengan Ramadhan. Bagi lelaki penikmat kehidupan malam ini, tak ada bedanya malam Ramadhan atau malam bulan lainnya. “Kalau saya mau dugem, ya dugem. Tak perlu melihat Ramadhan atau tidaknya,” kata Rudi santai.

Rudi termasuk clubber yang terdaftar sebagai member di beberapa klub malam maupun diskotik yang tersebar di seantero ibukota. Kemudahan aksesnya menikmati gemerlap kehidupan malam, memang didukung oleh lancarnya operasi klub-klub malam tempat Rudi menghibur diri. Menurut dia, hampir sepuluh tahun lamanya bergelut dalam dunia malam, dia tak pernah mendapati tempat-tempatnya nongkrong itu berhenti beroperasi, walau di bulan Ramadhan sekalipun.

Tidak takut digerebek FPI? “Emang FPI punya akses ke tempat-tempat yang saya kunjungi? Saya yakin mereka tidak punya, sebab tempat-tempat itu tidak mudah dijangkau sembarang orang,” kata Rudi.

Salah satu favorit lokasi dugem yang biasa dikunjungi Rudi terletak di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, pada sebuah gedung mewah yang berhimpitan dengan beberapa gedung tinggi lainnya. Rudi menyebut tempat dugem itu XXX tanpa mau menjelaskan lebih detil lagi. Menu-menu spesial yang didapatkan bujangan kelahiran Jakarta, 30 tahun lalu ini di XXX antara lain, sashi girls, karaoke plus-plus, pijat plus-plus dan beragam menu seks lainnya. “Memang, yang terkenal adalah sashi girls-nya, yang lain cuma pelengkap. Kebanyakan gadis-gadisnya langsung diimpor dari Jepang,” jelas Rudy.

Bagi pria berpostur tinggi ini, yang namanya kenikmatan tak dapat dinilai dengan uang. Menghamburkan uang sebesar Rp 1 atau Rp 2 juta rupiah tiap kali dugem, bukanlah hal yang sulit baginya. Maklum, penghasilan Rudy per bulan tergolong besar. Puluhan hingga ratusan juta bisa ia raih dari berbagai perusahaan yang menjadi kliennya.

Rudi mengatakan dirinya masih muda dan masih bebas menikmati kebebasannya. Dia juga masih enggan terikat dalam suatu kehidupan rumah tangga. “Mungkin empat atau lima tahun lagi, baru saya memikirkan untuk menikah,” ungkapnya.

Begitu pula dengan pensiun dari dunia foya-foya dan hura-hura, masih jauh dari bayangan, alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti ini. Momentum Ramadhan yang akan menjelang, tidak terlalu berpengaruh pada kebiasaannya itu.

Masih maraknya kemaksiatan, walau di bulan Ramadhan sekalipun, mengundang keprihatinan Habib Rizieq, Ketua Umum FPI. Sebagaimana diketahui, FPI adalah ormas Islam yang paling getol mengobrak-abrik tempat-tempat maksiat. Entah itu bar, pub, diskotik, tempat karaoke maupun tempat hiburan malam lainnya. “Tempat-tempat hiburan malam itu merupakan pusat peredaran narkoba maupun kemaksiatan, makanya kita sikat,” tegas Rizieq.

Ramadhan tahun ini, kata Rizieq, FPI akan tetap bergerak melakukan nahi mungkar. Agendanya sama dengan tahun-tahun yang lalu, tetap meminta agar bulan Ramadhan
di seluruh Indonesia betul-betul dihargai dan dimuliakan. Apalagi mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim. “Kita membutuhkan suatu SK (Surat Keputusan) yang mempunyai kekuatan hukum tetap atau undang-undang yang mengikat semua pihak agar menghormati bulan Ramadhan,” tegas ulama yang jago orasi ini.

Selama setahun terakhir, masyarakat pada umumnya tidak melihat FPI bergerak aktif “memberantas” tempat maksiat. Namun, bukan berarti ormas ini tiarap. Satu tahun ini FPI mencoba merespon keinginan-keinginan pemerintah dengan cara memperbaiki gerakannya. Bukan berarti semangat mereka kendor. “Jika pemerintah masih tetap membiarkan tempat-tempat maksiat bebas beroperasi, maka jangan salahkan jika kami bergerak lagi,” tegas Rizieq.

Memang kehadiran FPI, menimbulkan pro kontra di masyarakat. Apalagi di tengah masyarakat majemuk dan plural seperti Indonesia. Namun, bukan berarti FPI akan mengendorkan semangat juangnya. Mereka akan tetap konsisten berjuang melawan kemaksiatan selama kemaksiatan itu masih tumbuh dan berkembang.

Jauh dari Jakarta, tepatnya di Kota Kembang, Bandung, kehadiran FPI mendapat sambutan yang cukup hangat. Terutama dari Bandung Maksiat Wacth (BMW), sebuah LSM yang konsisten melawan kemaksiatan. Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Bandung juga menyimpan beragam potensi kemaksiatan. Oleh karena itu, BMW, merasa FPI dapat memberikan maslahat bagi umat. “FPI konsisten dalam memberantas segala bentuk kemaksiatan yang ada. Kehadirannya, paling tidak dapat meminimalisir kemaksiatan yang ada, walau hasilnya belum optimal,” ujar Direktur BMW, Asep Syarifuddin.

Menurut Asep, bulan Ramadhan adalah momentum bagi umat Islam untuk melakukan perubahan termasuk memberantas kemaksiatan yang ada. Amar makruf nahi mungkar tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadhan saja, namun juga pada bulan-bulan lainnya. Gerakan nahi mungkar yang dilakukan pada bulan Ramadhan adalah warning bagi pelaku kemaksiatan agar tidak melakukan perbuatan maksiat selamanya. “Kala ada kemaksiatan di depan mata, apapun alasannya, pemberantasan harus tetap dilakukan,” tegas Asep.

Tentu saja, orang-orang seperti Sandy dan Rudi menentang keras gerakan nahi mungkar ini. Rudi misalnya, menganggap hobi menikmati dunia malam adalah urusan pribadinya. “Sepanjang tidak menyakiti orang lain, saya tidak peduli. Masalah dosa adalah urusan saya dengan Tuhan,” tegasnya.

Demikian pula Sandy, pekerjaan yang dilakoninya sekarang adalah pilihan hidupnya. Dan ia tidak menyesalinya. “Terserah orang mau bilang apa, yang penting saya harus makan tiap hari, bagaimanapun cara mendapatkannya.”

Sandy juga mengaku tidak terlalu takut dengan rencana-rencana FPI yang akan “turun” pada bulan Ramadhan nanti. Dia yakin tidak bakal kena grebek karena tidak tinggal dalam suatu lokalisasi tertentu. Perempuan lulusan SMA ini, hanya melayani pelanggan khusus yang dikenalnya. Tempat kencannya pun bukan di sembarang tempat, namun di hotel-hotel tertentu saja.

Ramadhan tiba membawa berkah dan ampunan, namun tak semua umat Islam meraihnya. Keadaan dan kondisi tertentu membuat mereka tak beroleh rahmat “malam yang lebih mulia dari seribu bulan”.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori