Tahun baru kembali datang. Ritual pergantian tahun ini kerap dilalui dengan hura-hura dan hal yang sia-sia. Sebagai remaja Muslim, selayaknya sobat muda tidak terlena dengan hal yang mubazir.
Sobat muda, awal tahun baru atau pergantian tahun baru alangkah baiknya digunakan untuk melakukan renungan dan menyiapkan rencana-rencana yang akan dilakukan di kemudian hari. Daripada sekedar berhura-hura atau membuang-buang waktu, lebih melakukan introspeksi dan mereka-reka rencana di masa depan. Ingat, masa muda adalah masa yang paling indah sekaligus masa yang paling susah jika tidak diisi dengan sesuatu yang bermanfaat.
Pemuda adalah pelopor dan generasi penerus, kata para pakar dan tokoh. Bahkan Presiden Soekarno dulu sempat berkata, “Berilah aku sepuluh orang pemuda, niscaya aku mampu mengangkat gunung!”
Soekarno mungkin menyadari bahwa potensi pemuda itu sangat besar dan memiliki kekuatan yang dahsyat hingga mampu mengangkat gunung. Tentu saja bukan mengangkat gunung sungguhan, tapi itu adalah kiasan tentang bagaimana hebatnya pemuda atau generasi muda.
Rasulullah saw juga amat paham betul akan potensi pemuda ini. Jauh sebelum Soekarno mengeluarkan kata-kata itu, Rasulullah telah mengaplikasikan potensi pemuda dalam diri Usamah bin Zaid yang diberi tugas sebagai panglima perang. Bayangkan, dalam usianya yang baru menginjak 17 tahun, Usamah diamanahi memimpin puluhan ribu pasukan Muslim.
Memang pengangkatan Usamah sebagai panglima ini menimbulkan penentangan dari sebagian kaum Muslimin. Mereka ragu akan kemampuan pemuda yang masih “bau kencur’ ini. Namun, Rasulullah tetap berkukuh bahwa panji perang harus dibawa Usama. Dan Usamah pun mampu membawa kaum Muslimin meraih kemenangan dalam beberapa peperangan.
Sobat muda, mungkin juga pernah mendengar nama Jan Pieterszoon Coen atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pieters Coen. Itu tuh, mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang pernah menjajah nenek moyang kita dulu. Coen juga dikenal sebagai pendiri Batavia yang kini dikenal dengan nama Jakarta. Bayangkan saja, dalam usia 26 tahun, Coen telah menjadi nakhoda kapal, memimpin ekspedisi militer Belanda ke tanah air kita. Dalam usia 31 tahun, dia diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia, setelah menaklukkan Jayakarta yang diubah menjadi Batavia.
Itu kehebatan pemuda dalam strategi militer atau peperangan. Jika melihat dari segi keilmuan atau dunia intelektual, para pemuda juga memberikan kontribusi yang tidak sedikit. Sobat muda, pasti kenal akrab dengan nama-nama ilmuwan besar seperti Isaac Newton dan Albert Einstein, misalnya.
Newton menemukan sesuatu yang kelihatan sepele, namun bisa merubah cara pandang kita tentang alam. Dari jatuhnya buah apel, Isaac menemukan teori gravitasi atau gaya tarik bumi. Daya tarik bumi ini sangat besar hingga menyebabkan semua benda di dunia selalu berpijak ke tanah.
Selain memang dikenal rajin membaca sejak kecil, Newton juga kreatif membuat percobaan dan penyelidikan sendiri. Akhirnya, ketika masih berumur dua puluh tahunan, dia sudah menemukan banyak dasar-dasar teori ilmu pengetahuan.
Demikian pula dengan Einstein. Pria berambut jabrik ini terkenal dengan teori relativitasnya. Bahkan, Einstein menjadi ilmuwan kondang dan paling berpengaruh di abad 20 ini. Kejeniusannya hampir setara dengan Isaac Newton. Einstein dinilai telah memberi banyak kontribusi bagi perkembangan ilmu fisika, sama seperti yang apa yang telah diwariskan Newton.
Dalam usia 23 tahun, Einstein mulai membuat sebuah karya ilmiah fisika yang di kerjakannya diantara waktu senggang. Tiga tahun kemudian, menginjak usia ke-26, dia berhasil mempublikasikan karyanya mengenai teori relativitas tersebut.
Teori relativitas yang dikemukakan Einstein ini kemudian menjadi dasar bagi teori-teori ilmu fisika modern selanjutnya. Karyanya ini juga memberikan dampak yang besar bagi semua lini perkembangan ilmu fisika modern. Dari teori kuantum, nuklir sampai bom atom.
Sobat muda, kemerdekaan negara kita ini pun juga tidak lepas dari peran para pemuda pada waktu itu. Para pemuda kala itu bahkan sengaja menculik Soekarno-Hatta guna menyusun teks proklamasi dan mengumandangkan kemerdekaan Indonesia.
Sebagai seorang pemuda dan calon penerus generasi bangsa ini, alangkah baiknya mulai kini sobat muda menyiapkan rencana-rencana besar guna menyongsong masa depan. Tidak tergelincir dalam budaya hedonis atawa huru-hara, eh maaf, hura-hura atau budaya tak berguna lainnya. Bukan waktunya lagi menyesali masa lalu. Yang penting adalah mencoba berjuang dan bergerak ke depan.
Memang, kehidupan dalam masa-masa seusia sobat muda, godaannya begitu besar. Jika tak kuat akan cepat terjerumus ke dalam jurang kehancuran. Makanya, tahun baru ini –sebenarnya tahun baru kita di bulan Muharram- hendaknya dapat memberi arti baru bagi kehidupan kita ke depannya.
Harus ada target yang hendak dicapai. Tentu saja target-target yang positif yang dapat membuatmu menjadi orang sukses. Sukses dalam urusan agama, bangsa dan negara. Rasulullah pun tak segan-segan memberikan nasehat pada kita sebagai generasi muda. Kata beliau, “Ingat masa mudamu, sebelum datang masa tuamu!” Kata-kata ini kemudian menjadi salah satu bait lagu kelompok Nasyid asal Malaysia, Raihan.
Jika sadar, sebenarnya apa yang kita raih hari ini atau di kemudian hari, tergantung dari hasil kinerja kita di masa lalu. Jika dulu kita termasuk dalam golongan orang yang suka malas-malasan, maka hasilnya pun tidak berbentuk apa-apa selain lamunan kosong. Tapi jika kita rajin mengembangkan dan mengasah potensi diri, maka kita akan menjadi sosok yang sesuai dengan apa yang kita lakukan itu.
So, tahun baru ini hendaknya memberi pencerahan pada kita, agar lebih positif memandang masa depan dengan menyiapkan diri sekarang. Gapailah cita-citamu, walau ia bersemayam di angkasa! Ceile… Jangan patah semangat dan keep on fighting!