Oleh: Chairul Akhmad | 12/09/2007

Menyambut Ramadhan

Ramadhan datang lagi. Bulan mulia, penuh berkah dan ampunan. Sayang masih banyak dari kita yang menyambutnya dengan sesuatu yang tidak dicontohkan agama.  Bagaimana seharusnya menyambut Ramadhan?

Mitra muda, ketika eL-Ka, telah sampai ke tanganmu, maka insya Allah kita telah menjalankan ibadah shiyam Ramadhan selama beberapa hari. Beragam cara yang dilakukan umat Islam di Indonesia maupun di belahan bumi lainnya dalam menyambut bulan suci ini.

Di Jawa Timur, beberapa hari menjelang Ramadhan, anak-anak dari berbagai sekolah melakukan pawai keliling kota menyambut bulan puasa. Demikian pula di beberapa kota seperti Jakarta, Banda Aceh, Banjarmasin dan lainnya. Selama masih dalam koridor syar’i dan demi syiar Islam, tiada salahnya pawai itu dilakukan.

Namun, ada beberapa kegiatan menyambut Ramadhan yang dilakukan sebagian umat Islam yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Kegiatan menyambut Ramadhan ini lebih didasarkan pada tradisi masa lalu yang turun-menurun hingga kini.

Di Padang, Sumatera Barat, misalnya, ada tradisi sambut Ramadhan yang disebut balimau, yaitu mandi ramai-ramai di lubuk (sungai), danau atau pantai. Tak peduli tua-muda, laki-perempuan, anak-anak hingga kakek-nenek, berbaur jadi satu. Mandi ramai-ramai dalam suasana gembira-ria. Biasanya, prosesi balimau ini berakhir hingga tenggelamnya mentari di ufuk barat atau menjelang azan magrib tiba.

Tradisi mandi bersama ala balimau ini mirip banget dengan tradisi orang-orang Hindu di India, yang beramai-ramai nyebur di Sungai Gangga. Selain di Padang, tradisi serupa juga terdapat di Riau, terutama di Kabupaten Kampar, Bengkalis, Talukkuantan dan Pelalawan. Bahkan para pejabat daerah setempat pun ikut-ikutan dalam prosesi ini.

Di masyarakat Jawa ada juga tradisi serupa walau tak sama, namanya padusan. Sama dengan balimau, acara padusan ini juga digelar sehari menjelang puasa. Bagi masyarakat Yogyakarta dan Solo, tradisi padusan ini biasanya dilakukan di sumber air di kawasan Pengging, Boyolali dan kawasan Cokrotulung, Klaten. Kedua sumber air tersebut disebut umbul dan diyakini dapat membersihkan noda lahiriah sebelum orang melakukan ibadah puasa. 

Selain padusan, masyarakat tradisional Jawa juga melakukan ritual yang disebut nyadran atawa ziarah kubur, guna menyambut puasa. Namun, tradisi ziarah kubur jelang Ramadhan ini bukan hanya monopoli masyarakat Jawa saja. Hampir sebagian besar umat Islam di Indonesia, telah melakukan tradisi ini sejak lama.

Mitra muda, sebenarnya Islam telah memberikan pedoman dan tuntunan yang jelas dalam menyambut Ramadhan. Namun di negeri kita ini, tradisi dan budaya nenek moyang masih begitu kental mewarnai pelaksanaan syariat dan ibadah Islam yang sebenarnya.

Menjelang Ramadhan, Rasulullah meningkatkan amal ibadah beliau, terutama puasa sunnah. Bahkan Ummul Mukminin Aisyah ra sampai berkata, “…Tidaklah kami melihat Rasulullah puasa lebih banyak selain bulan Sya’ban,” (HR Bukhari).

Usamah bin Zaid pernah bertanya pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Anda berpuasa (di bulan-bulan lain) seperti Anda berpuasa di bulan Sya’ban?”
“Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang sering dilupakan manusia, padahal ia adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Allah Rabbul Alamin. Karena itu aku ingin amalku diangkat kepada Allah dalam keadaan aku sedang berpuasa,” jawab Rasulullah. (HR Nasa’i).

Ada beberapa persiapan yang seyogianya dilakukan setiap Muslim dalam menyambut Ramadhan diantaranya, persiapan mental, spiritual, intelektual, serta fisik dan materi.

Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah. Orang-orang yang beriman akan memfungsikan tiap hitungan hari dalam bulan mulia ini dengan rangkaian ibadah kepada Allah. Oleh karena itu, dibutuhkan kesiapan mental untuk menyongsong berbagai macam bentuk ibadah tersebut, khususnya puasa, bangun malam, tartil Qur’an dan lainnya.

Persiapan ini juga bisa dilakukan dengan doa, karena berdoa berarti mempersiapkan mental dan hati. Rasulullah saw, ketika memasuki bulan Rajab memanjatkan doa, “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan berkahi pula kami di bulan Ramadhan,” (HR Ahmad).

Persiapan mental juga bisa dilakukan dengan mengingat keutamaan-keutamaan yang terdapat di bulan Ramadhan, hingga kita termotivasi untuk menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya.

Persiapan spiritual atau ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti membaca al-Qur’an, puasa sunnah, dzikir dan lainnya. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah saw mencontohkan umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Persiapan intelektual atau fikriyah dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Sebab, banyak orang yang berpuasa tapi tidak menghasilkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga. Kenapa demikian? Karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seseorang yang beramal tanpa ilmu tidak menghasilkan apa-apa kecuali kesia-siaan. “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga,” (HR Nasa’i dan Ibnu Majah).

Fisik dan materi sangat menopang ibadah di bulan Ramadhan yang dilakukan seorang muslim. Kita tidak akan mampu berbuat maksimal dalam beribadah pada bulan Ramadhan ini jika fisik lemah atau sakit. Oleh karena itu, kita dituntut untuk menjaga kesehatan fisik. Rasulullah justru menganjurkan umatnya agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan seperti dengan siwak (sikat gigi), berobat dengan berbekam dan lainnya.
 
Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama sebelas bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika Ramadhan datang, dia dapat beribadah secara khusyuk, tenang dan tidak berlebihan dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu ibadahnya.

So mitra muda, mari sambut Ramadhan dengan sesuatu yang berguna dan sesuai syar’i, bukan dengan sesuatu yang sia-sia dan tidak termasuk dalam ajaran agama Islam. Marhaban Ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah shiyam, semoga sukses meraih takwa.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori