Oleh: Chairul Akhmad | 28/09/2007

Idul Fitri yang Dinanti

Idul Fitri akan segera hadir menyapa kaum beriman. Saatnya menata diri, menyambutnya dengan cara yang sesuai dengan fungsi dan hakikatnya.

Kesibukan luar biasa dialami Diana, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sejak dua pekan sebelum lebaran, ibu empat orang anak itu telah sibuk “menggerayangi” tiap mall dan pusat perbelanjaan di ibukota. “Nyariin baju lebaran yang pas buat anak-anak. Kan kasihan, kalau lebaran tidak pake baju baru,” dalihnya.

Bagi Diana, membeli baju baru buat anak menjelang lebaran adalah kewajiban. Belinya pun bukan sepotong dua potong, melainkan berpotong-potong dan bermacam-macam. Makanya, jauh-jauh hari dia telah merancang rute, mall-mall mana aja yang harus didatangi agar mendapatkan barang sesuai kebutuhan. Tentu saja yang namanya belanja, apalagi untuk barang yang non-primer, waktunya tidaklah sebentar, pasti lama. Dari pagi sampai malem pun dijabanin. Yang jelas, jika sibuk ngurusin belanja buat lebaran, orang akan terlupa dengan ibadah Ramadhannya. Apalagi memburu malam lailatul qadar.

Itulah sebagian kondisi umat Islam Indonesia kala menyambut Idul Fitri atawa lebaran. Orang-orang sibuk dengan persiapan mudik, jalan-jalan ke pasar atau ke mall membeli baju baru. Jamaah shalat tarawih di masjid atau mushola mulai sepi, sementara pasar dan pusat-pusat perbelanjaan kian ramai. Tak heran, jika tidak terjadi peningkatan kualitas hidup keberagamaan yang dialami umat Islam negeri ini. Karena ritualnya dari dulu, ya begitu-gitu aja. Agama Islam kian berkembang, tapi KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) juga kian marak. Tindakan kriminal maupun bermacam penyimpangan dan kejahatan lainnya, tak jua berkurang. Ramadhan yang seharusnya menjadi media peningkatan kualitas keimanan hanya berlalu dalam tradisi dan ritual semata.

Menjelang akhir Ramadhan, Rasulullah beserta para sahabat, juga generasi terbaik umat Islam selanjutnya, justru mengetatkan ikat pinggang untuk beribadah kepada Allah SWT. Bukannya kelayapan di mall atau sibuk ngurusin mudik. Mereka benar-benar tak ingin melewatkan satu malam pun tanpa ibadah, shalat lail, tartil qur’an, dzikir maupun istighfar kepada-Nya. Bukan dengan melakukan pemborosan atau sifat-sifat mubazir lainnya.

Perilaku boros dan mubazir dalam berbelanja guna menyambut lebaran, bukanlah esensi dan prinsip ajaran Islam. Apalagi jika dikaitkan dengan syariat puasa Ramadhan. Boros dan mubazir adalah pelanggaran prinsip dan ajaran Islam. Mubazir sangat dilarang sampai Allah menganggapnya sebagai saudara syetan. Firman Allah SWT, ”Sesungguhnya orang yang mubazir itu adalah saudara-saudara syetan dan syetan itu sangat ingkar kepada Tuhan,” (QS al-Isra’: 27).

Rasulullah saw juga sangat melarang keras pola hidup mubazir ini. Diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu’bah, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan kamu durhaka kepada ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, enggan memberi miliknya tetapi meminta-minta milik orang lain. Dan dilarang atas kamu tiga perkara, yaitu berbohong dalam cerita, banyak bertanya dan mubazir harta,” (HR Bukhari).

Berdasarkan ayat al-Qur’an dan hadits di atas, pemborosan dan mubazir adalah perbuatan keji dan harus ditinggalkan oleh orang yang mengaku diri mereka benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apalagi di bulan Ramadhan ini. Sebaiknya harta yang akan kita gunakan untuk membeli sesuatu yang tidak seberapa penting itu, dialihkan untuk zakat, infak dan sedekah.

Kita mestinya sadar bahwa Ramadhan yang telah kita lalui telah mendidik kita agar selalu hemat dalam berbelanja. Hasil tarbiyah yang kita terima di bulan Ramadan ini, kita manfaatkan untuk mengarungi kehidupan dalam sebelas bulan yang akan datang.

Harta kekayaan adalah satu di antara beberapa nikmat dan karunia Allah kepada seseorang. Secara tidak langsung, Allah juga menjadikan kekayaan itu sebagai ujian bagi hamba-Nya. Oleh karena itu, hendaknya dibelanjakannya dengan baik tanpa dicemari unsur pemborosan yang membawa kepada kemubaziran.

Islam tidak melarang umatnya berbelanja, tetapi mengajarkan umatnya tata cara berbelanja yang benar, secara sederhana. Ketika berbelanja menyambut lebaran, kita juga seharusnya memikirkan nasib saudara seagama, yang menyambut lebaran dalam keadaan serba kekurangan. Alangkah indahnya jika kelebihan harta yang akan digunakan untuk berbelanja yang tidak perlu itu, diarahkan ke zakat, infak dan sedekah.

Bulan Ramadhan juga memiliki dimensi sosial yang tinggi dengan beragam syariat di dalamnya. Menahan lapar dan haus adalah satu tarbiyah puasa agar seorang Muslim dapat merasakan lapar dan dahaga yang dirasakan kaum fakir miskin. Di sini, umat Islam diminta kepekaan dan sensitifitasnya terhadap penderitaan orang lain. Dari kepekaan ini akan memunculkan kepedulian dan sikap baik untuk membantu dan menolong sesamanya.

Ajaran zakat, infak dan sedekah memupuk semangat kepedulian dalam berbagi harta benda pada orang lain. Hal ini dimunculkan agar umat Islam tidak terlalu mencintai harta benda, juga sebagai penegasan bahwa di dalam harta yang dimilikinya itu, masih ada hak orang tak punya yang harus dipenuhi. Alangkah indahnya ajaran dan prinsip Islam yang terkombinasi dalam sebuah bulan yang disebut Ramadhan ini. Itulah mengapa, jika orang-orang yang sukses menggapai “fitri” adalah orang-orang yang juga sukses dalam menjalani tes dan ujian selama Ramadhan.

Idul Fitri berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu ‘id yang artinya kembali dan fithri yang artinya suci. Dengan demikian, makna Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian setelah mengadakan pembersihan-pembersihan diri selama bulan Ramadhan. Mengingat bahwa puasa Ramadhan merupakan pembersihan diri maka sudah pasti bahwa hakikat Idul Fitri hanya diraih oleh orang-orang yang benar-benar serius dalam membersihkan dirinya.

Pengertian kembali kepada kesucian ini lebih mendekati istilah-istilah yang selama ini dialamatkan pada puasa Ramadhan khususnya yang menyatakan bahwa puasa Ramadhan adalah bulan taubat. Atribut ini mengindikasikan bahwa seseorang yang telah selesai mengerjakan puasa, maka dirinya berada dalam keadaan suci yang dalam bahasa Arab disebut dengan fithri. Ini adalah pengertian yang pertama.

Fithri juga kadang diartikan dengan penciptaan, sarapan pagi, berbuka, memeras susu, suci dan wadah dalam diri manusia untuk mengenal Tuhan. Dalam konteks puasa, pengertiannya adalah dalam konteks lahiriyah yang diartikan dengan kembali berbuka atau sarapan, karena selama puasa tidak dibolehkan memasukkan sesuatu ke dalam rongga mulut seperti makan dan minum mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun secara maknawiyah pengertian Idul Fitri selalu diidentikkan dengan kembali kepada kesucian karena adanya jaminan dalam hadits bahwa orang-orang yang mengerjakan puasa yang semata-mata karena Tuhan maka akan diampuni dosa-dosanya pada tahun yang lampau.

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah menyatakan, untuk melihat berhasil atau tidaknya puasa yang dilakukan seseorang hanya dapat dipantau ketika puasa telah usai. Jika perilaku yang bersangkutan berubah ke arah yang lebih baik dari sebelumnya -usai menjalankan puasa- maka dapat dikatakan bahwa puasanya berhasil. Pun demikian sebaliknya.

Langkah awal yang harus ditempuh untuk menyambut hari raya Idul Fitri adalah dengan menyempurnakan jumlah hari-hari puasa pada bulan Ramadhan. Perintah menyempurnakan ini dapat dilihat dari dua sisi yaitu hukum dan moral. Dari segi hukum menandakan bahwa hari raya Idul Fitri dapat dilaksanakan bilamana bilangan hari pada puasa Ramadhan telah sempurna, sedangkan dari segi moral mengindikasikan bahwa latihan-latihan yang terdapat pada bulan Ramadhan seperti sabar, pemaaf, tawadhu dan lain-lain harus dilakukan dengan baik dan sempurna pula.

Berangkat dari kesempurnaan dua makna ini, maka kehadiran hari raya Idul Fitri harus diisi dengan satu ketentuan yaitu dengan mengagungkan (membesarkan) Allah SWT, takbir dan tahmid.

So guys, sambutlah Idul Fitri atau lebaran sesuai dengan fungsi dan hakikatnya. Jangan menenggelamkan diri pada hal-hal yang jauh dari nilai-nilai keislaman yang tak sesuai dengan ajaran dan prinsip agama yang mulia ini. Dengan demikian kita akan benar-benar kembali ke “fitrah”, dalam pengertiannya yang maknawi atau harfiah. Taqobbalallahu minna wa minkum!


Tanggapan

  1. selamat idul fitri
    selamat kembali kekesucian
    mari sambut dengan “kesederhanaan”
    dalam berpenampilan…
    mari isi dengan “kemewahan”
    dalam bersilaturrahmi…

    salam kenal


Beri tanggapan

Your response:

Kategori