Lebaran lagi, mudik lagi. Keduanya seolah menyatu dalam ritual tahunan umat Islam Indonesia. Apapun akan dilakukan pemudik, agar dapat pulang ke tempat yang dirindukan.
Memenuhi harapan yang kusayang
untuk kumpul di akhir Ramadhan
Aku pulang malam terbang garuda rindu
Penggalan sajak Sitor Situmorang berjudul Panggilan dalam kumpulan buku puisi Dinding Waktu (1976) di atas, seakan mewarnai hari-hari umat Islam menjelang berakhirnya puasa Ramadhan. Suasana mudik atau pulang kampung, setelah sekian lama terpisah oleh rutinitas dan kewajiban hidup, rehat sejenak dari kerasnya tuntutan hidup di kota memang menciptakan kerinduan.
Kerinduan akan kampung halaman yang kian membuncah, memaksa orang untuk segera berangkat pulang. Apapun kondisinya, berapapun biaya dan ongkosnya, bagaimanapun lelah dan capeknya perjalanan. Mereka tidak peduli. Berdesak-desakan di kereta api, berjubel di dalam bis, tersuruk di geladak-geladak kapal laut, sampai menempuh ratusan kilometer dengan sepeda motor pun dilakoni. Demi sebuah pertemuan. Pertemuan dengan keluarga, kerabat maupun teman-teman sepermainan di masa lalu.
Tradisi mudik yang terjadi di bumi pertiwi ini adalah peristiwa yang unik sekaligus menarik. Waktunya pun selalu menjelang lebaran, beberapa hari sebelum shalat Idul Fitri. Kenapa demikian? Apakah dengan begitu mudik merupakan bagian dari rangkaian ibadah puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri? Apakah pulang kampung yang dilakukan bukan pada saat menjelang lebaran tidak termasuk mudik?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi kedua, mudik berarti berlayar atau pergi ke udik (hulu sungai). Makna keduanya adalah pulang ke kampung halaman.. Kata udik mengandung makna positif, yaitu bagian atas sungai atau bagian kepala sungai yang dekat sumber mata air, sehingga jernih dan belum terkena polusi.
Kata udik juga kerap dikonotasikan dengan bebal, bodoh, bego, kampungan dan beberapa kata negatif sejenisnya. Namun dalam pengertiannya yang lebih tepat, udik yang mengandung makna bagian atas sungai, yang jernih, bersih, yang kita gunakan dalam konteks ini.
Kata “mudik” juga punya arti naik yang dapat dimaknai secara spiritual, yakni upaya menaikkan spiritualitas kita agar lebih tinggi lagi setelah sekian waktu berada dalam kehidupan metropolitan dan kehilangan spiritualitas, karena dipenuhi persaingan dan pola hidup materialistik. Secara psikologis, mudik memberi sumber kekuatan mental baru.
Menurut budayawan Jacob Soemardjo, secara historis, mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah mengenal tradisi ini jauh sebelum berdiri Kerajaan Majapahit untuk membersihkan pekuburan dan doa bersama kepada dewa-dewa di kahyangan untuk memohon keselamatan kampung halamannya yang rutin dilakukan sekali dalam setahun. Sejak pengaruh Islam masuk, tradisi ini berangsur terkikis, karena dianggap syirik. Namun peluang kembali ke desa setahun sekali itu muncul kembali lewat momentum Idul Fitri.
Kini, tradisi mudik menjadi fenomena menarik, sebab ia mampu menembus batas-batas rasionalitas. Bayangan kegembiraan akan merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa, keriangan akan bersua dengan sanak keluarga, serta kekhidmatan mencium kembali kampung halaman menghilangkan kesusahan dan hiruk-pikuknya suasana yang terjadi. Kampung halaman akan senantiasa berkesan bagi kaum urban yang merantau.
Tak mengherankan jika jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan diri. Pemudik rela menghabiskan tabungan hasil kerjanya dalam setahun, rela berdesakan dalam kendaraan, tersiksa dalam perjalanan bahkan terkadang berujung maut karena kecelakaan. Hal ini membuktikan betapa peristiwa kebudayaan itu sangat dinantikan. Dengan pola pikir yang demikian itu, kata Jacob, mudik maknanya sama, yakni kembali ke ibu, ke kampung halaman, ke nenek moyang, ke asal adanya, kembali ke fitrahnya.
Begitulah kesadaran kolektif bangsa ini sejak zaman dahulu kala, yakni tidak pernah melupakan jati dirinya, asal usulnya, nenek moyangnya, kampung halaman tempat ia dilahirkan. Mudik yang dilakukan menjelang Idul Fitri dan selesainya puasa Ramadhan ini menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tingkat religiositasnya tinggi sejak dahulu kala. Hidup ini bukan masalah sekular belaka. Hidup ini selalu merupakan bagian, menyatu, dengan hal-hal metafisika dan transenden. Substansi ini amat terasa hadir selama bulan Ramadan. Di situ manusia merasa amat dekat dengan Allah, mematuhi perintahnya, tunduk padanya seratus persen. Manunggaling kawula Gusti, kata orang Jawa.
Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abdul Munir Mulkhan menyatakan, tradisi mudik terkait dengan ajaran Islam, yakni ajaran tentang silaturahmi (menyambung cinta-kasih) dan ajaran untuk minta maaf bagi seseorang saat menyadari telah berbuat salah kepada orang lain. Namun, ajaran silaturahmi dan minta maaf, jika berbuat salah, tidak dikhususkan dilakukan hanya di Hari Raya Fitrah sekali setahun. Demikian pula ajaran berbakti pada orangtua atau yang dituakan bukan ajaran yang dilakukan hanya setahun sekali dan tidak pula secara khusus harus dilakukan di Hari Raya Fitrah itu.
Dalam pandangan Munir, mudik lebaran merupakan prosesi ritual maha-kolosal dan misterius yang hanya ada di negeri seribu pulau ini. Prosesi ritual ini mengandung banyak makna. Jutaan manusia bergerak serentak di hari-hari terakhir Ramadhan seolah sedang melakukan tapak tilas atas jejak atau asal-muasal kehadirannya di dunia. Melalui mudik, seolah sejarah hendak didaur ulang, disegarkan kembali, dan dicerahkan guna memberi roh dan napas baru perjalanan sejarah satu tahun ke depan.
Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun dalam bukunya Sedang Tuhan pun Cemburu (1994) menulis, orang beramai-ramai mudik itu sebenarnya sedang setia kepada tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal-usulnya.
Sebenarnya, dimanakah asal-usul kita dan kemanakah kita akan kembali? Pada prinsipnya, kita senantiasa rindu untuk pulang ke asal muasal kita. Karena itulah kita sering kangen kepada orang tua, kita rindu kepada kampung halaman dan lain sebagainya.
Tapi, kenyataan yang sebenarnya, kampung halaman dan tempat tinggal kita di dunia ini hanyalah merupakan asal muasal yang bersifat relatif. Tempat tinggal kita yang hakiki akan kita jumpai setelah kematian. Ke negeri akhirat kita akan pulang dan di sana adalah rumah kita yang sejati. Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita akan kembali.
Mudik ke kampung halaman dan “tempat asal” adalah pasti. Yang pertama, terkait dengan kebutuhan manusia untuk selalu pulang kampung, karena itu adalah fitrahnya sebagai orang yang dilahirkan di sana. Tak hanya di Idul Fitri, kapan pun bisa terjadi. Tergantung kemauan dan kebutuhan si pemudik sendiri. Yang kedua, waktunya tak bisa diprediksi, itu tergantung kehendak si “pemilik tempat asal”. Bisa nanti, besok, lusa, minggu depan, tahun depan, tergantung kontrak hidup.
Mudik ke kampung dan ke tempat asal di hari Fitri akan memuarakan manusia pada kebutuhan insaniahnya yang paling dasar, pertemuan dan orang yang disayang dan pertemuan dengan Tuhannya. Namun, karena tempat asal itu lebih abadi daripada sekedar kampung halaman, alangkah baiknya ia lebih diutamakan. Bagaimanapun, kampung halaman adalah tempat singgah sementara, dalam perjalanan menuju tempat asal. Bekal yang dibutuhkan, jauh lebih besar daripada sekedar mudik ke kampung.