Kaum Syi’i di kota Malang, biasanya mengadakan pertemuan sekali dalam sepekan. Saban Jumat malam mereka membentuk halaqah dan mengkaji ajaran-ajaran Syiah.
Shalat Isya baru saja usai di malam Sabtu pekan kedua bulan Februari, ketika beberapa orang mendatangi sebuah rumah besar berlantai dua milik warga keturunan Arab di Jalan Untung Suropati, Lawang. Di rumah megah berbentuk khas dan kuno itu akan digelar pengajian mingguan kaum Syiah. Pengajian ini bersifat pembinaan internal yang tidak boleh diikuti oleh orang luar non-jamaah.
Malam itu, walau langit tampak gelap berselimut mendung, para jamaah yang berdatangan tampak sumringah dan berbahagia. Maklum, yang mengisi kajian kali ini adalah seorang mullah dari Iran. Bukan ustadz yang biasanya. Tentu saja para jamaah tidak akan melewatkan kesempatan langka ini. Sang mullah yang bernama Syeikh Abdul Jawwad Ibrahimi direncanakan akan tiba pada pukul 20.00 WIB.
Sembari menanti kehadiran sang syeikh, para jamaah yang telah duduk melingkar secara teratur di dalam rumah mulai membaca doa-doa tawassul dan shalawat kumayl. Shalawat yang tak biasa terdengar di kalangan ahlus sunnah wal jamaah. Kebanyakan peserta pengajian itu adalah orang-orang keturunan Arab. Wajah-wajah pribumi yang hadir dapat dihitung dengan jari. Menjelang pukul 20.00 WIB, Syeikh Abdul Jawwad Ibrahimi tiba di lokasi. Ia segera disambut dengan hangat oleh para jamaah yang telah lama menantinya. Peserta kajian itu sekitar 50 orang yang terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Ruangan tempat kajian berlangsung cukup lebar, berupa teras yang langsung menyatu dengan ruang tengah rumah besar. Bagian depannya berupa garasi mobil dengan lantai dari paving block seukuran 4 x 8 meter. Pintu masuk ke garasi terbuat dari kayu dengan lubang seukuran orang dewasa di tengah-tengahnya sebagai akses keluar masuk ruangan. Ruangan teras ini dipisahkan oleh kain berwarnai hijau sebagai pembatas (hijab) dengan ruang tengah di mana jamaah putri berada.
Tidak banyak ornamen dan hiasan di teras rumah yang didominasi warna putih dan dilapisi karpet tebal pada lantainya itu. Pada dinding ruangan yang menghadap ke pintu garasi terdapat tulisan kaligrafi pada bingkai kayu seukuran 50 x 80 centimeter bertuliskan, “Ya dahilid dar shalli alan nabiyyil muhtar wa alihil ithar, allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad.”
Di bawah kaligrafi tersebut terdapat figura kecil berukuran 40 x 60 centimeter berisi gambar tokoh revolusi Iran, Ayatullah Ali Khomeini. Sang Imam berpose dalam posisi duduk menghadap ke depan, mengenakan seragam kebesarannya; surban putih, jubah hitam dan baju dalam warna putih.
Syeikh Abdul Jawwad Ibrahimi duduk bersandar pada dinding persis di bawah bingkai foto Imam Khomeini. Di depannya terdapat sebuah meja kecil yang biasanya digunakan sebagai tempat menaruh Al-Qur’an atau kitab ketika halaqah. Namun, di atas meja kecil setinggi lutut orang dewasa itu, tidak terdapat apapun. Hanya botol Aqua ukuran satu liter yang berdiri tegak di samping kaki meja sebelah kiri.
Abdul Jawwad Ibrahimi adalah lelaki Persia dengan postur tinggi besar. Kombinasi warna merah dan putih pada cambang, jenggot dan kumisnya membuatnya nampak tua namun berwibawa. Sorot matanya yang bening namun tajam mampu menyedot perhatian para pendengarnya. Wajahnya yang putih bersih dengan intonasi suara tenang dan jernih, seakan-akan membuat hadirin enggan berpaling ketika ketika ia berucap kata. Jika diperhatikan sekilas, ia mirip dengan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.
Sang mullah mengenakan surban khas ulama Iran berwarna putih. Jubahnya yang berwarna hitam tersampir pada pundaknya. Sebuah jas berwarna cokelat menutupi baju putih yang membalut tubuhnya. Abdul Jawwad berbicara dalam bahasa Parsi. Ia membahas tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dengan menukil kitab Nahjul Balaghah, khotbah yang kedua. Khotbah ini berisi tentang keutamaan hamdalah (memuji Allah).
Seorang pria muda, sekitar 35 tahun, duduk di samping sang mullah bertindak sebagai penerjemah. Wajahnya dipenuhi cambang, jenggot dan kumis yang tercukur rapi. Lelaki pribumi ini mengenakan baju koko warna krem dengan celana panjang warna senada. Walau bukan keturunan Arab, pria muda ini sangat fasih berbahasa Parsi.
Di antara kata-kata yang keluar dari bibir sang mullah malam itu, “Saya memuji Allah dengan memohon kelengkapan rahmat-Nya, dengan tunduk kepada keagungan-Nya dan mengharapkan keselamatan dari berbuat dosa kepada-Nya,” sebagaimana diterjemahkan oleh si pria muda. “Kita harus memuji Allah dalam segala hal, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Ali bin Abi Thalib,” lanjutnya.
Setiap kali nama Ali disebut, para hadirin kompak berkoor, “Alaihis shalatu was salam.” Persis sebagaimana ungkapan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang diucapkan kaum Sunni ketika mendengar nama beliau disebut. Seolah-olah, Ali adalah sang Rasul itu sendiri.
Abdul Jawwad melanjutkan dan berpesan agar para pencinta Ahlul Bait ini bersikap tabah, sabar dan tetap istiqamah mengikuti pengajian (mereka menyebutnya maknawiyah) walau jumlah mereka sedikit. “Jangan berputus asa. Dan tetaplah memuji Allah dalam tiap kesempatan, agar kita mendapat kemenangan!”
Salah seorang jamaah di bagian belakang berteriak, “Allahumma shalli ala Muhammad!”
Yang langsung dijawab hadirin, “Allahuma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad,” sebanyak tiga kali dengan suara keras, kompak dan teratur.
Di antara ceramahnya, sang syeikh juga berpesan agar para jamaah tidak ragu-ragu dalam mengamalkan dan menyebarkan ajaran Syiah kepada masyarakat sekitar. Tak lupa, ia juga menyinggung tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan 12 imam Syiah yang diklaim sebagai orang-orang yang ma’sum. Sebagian kepala para jamaah tampak mengangguk-angguk tanda mafhum.
Sebagai “pencinta” Ahlul Bait, tentu saja para jamaah diharap paham dan mengerti tentang tragedi Karbala. Peristiwa terbunuhnya cucu Rasulullah, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Abdul Jawwad Ibrahimi “membawa” hadirin ke Karbala dengan menukil syair-syair yang menuturkan peristiwa tragis itu dengan nada puitis. Suaranya renyah dan merdu dengan intonasi dan irama yang melangutkan. Bibirnya bergetar dalam ritme yang bergelombang, melagukan lirik dan syair berbahasa Arab dan Parsi yang silih berganti. Para pendengar tenggelam dalam isak yang tertahan. Tak sedikit yang meneteskan air mata.
Begitu kisah sampai pada babak di mana Husein menangis dan memanggil-manggil pengikutnya, “…manakah orang-orang yang akan menolongku? Manakah orang-orang yang akan menolong cucu Rasulullah?” kata-kata Husein yang berulang-ulang namun tak mendapatkan jawaban sebagaimana terucap dari bibir mullah itu seolah-olah menjebol pertahanan hadirin. Isak yang tertahan pun berubah keras, menjadi jerit kepedihan dan kepiluan.
Apalagi ketika syair Abdul Jawwad yang melankolis nan sendu itu sampai pada adegan dimana para musuh Allah akan membunuh bayi putra Husein ketika dalam gendongannya. “Apakah engkau tega membunuh bayi yang tak berdosa ini? Apakah salahnya? Apakah engkau tega?” suara Husein bergetar melihat wajah-wajah para pembunuh yang haus darah. Tiba-tiba sebatang anak panah dengan tiga cabang pada kepalanya menancap pada tubuh si bayi tak berdosa. Nyawanya melayang seketika.
Tangis hadirin pun meledak diselingi sedu-sedan. Beberapa orang bahkan meraung-raung dengan suara pelan sambil menutupi wajah mereka yang banjir air mata. Sebagian lagi tampak memukul dadanya dengan kepalan tangan masing-masing sambil terisak. Abdul Jawwad berhasil menciptakan suasana magis bagi mereka pada Sabtu malam yang diwarnai rintik hujan itu. Tetesan air di atap seolah-olah mengiringi simfoni tragedi Karbala di teras rumah.
Sekitar sepuluh menit kemudian, acara tangis-tangisan ala Karbala itupun usai. Sang mullah mengungkapkan, dirinya benar-benar bahagia. Bahagia dan gembira bisa bertemu para pencinta Ahlul Bait di Malang. “Saya telah berkeliling di negeri ini untuk bertemu dengan pencinta Ahlul Bait dan mendapatkan sambutan yang luar biasa berkesan dari para jamaah. Seolah-olah saya bertemu keluarga sendiri. Dan kita memang keluarga,” kata Abdul Jawwad.
Ia kembali menegaskan pada hadirin agar selalu memuji Allah dan memanjatkan shalawat kumayl, istiqamah dalam menggelar maknawiyah agar para pencinta Ahlul Bait bertambah banyak di negeri ini, hingga datangnya Imam Mahdi. Sang mesiah yang ditunggu-tungguh.
Menjelang pukul 22.00 WIB, acara maknawiyah berakhir. Ditutup dengan doa oleh sang mullah. Setelah itu dilanjutkan dengan makan malam dan ramah-tamah. Kain hijab berwarna hijau dilepaskan, sebuah meja besar dengan aneka sajian dan makanan di atasnya telah tergelar di ruang tengah. Para jamaah itu pun makan malam bersama-sama.
Di luar garasi, beberapa orang aparat kepolisian dengan pakaian preman tampak berjaga-jaga. Demikian pula di jalan raya, di luar pagar rumah. Gerimis masih menetes, walau tak seberapa deras. Rintiknya yang jarang-jarang mengantarkan penulis membelah malam di atas roda dua. Tragedi Karbala itu masih terngiang-ngiang di telinga. Begitu mistis dan magis, seolah diri terbawa serta ke dalamnya. Namun, dinginnya hembusan angin malam menepiskan semuanya. Dan roda dua terus melaju, meninggalkan ciprat air di atas aspal.
aq benci banget sama kesesatan syiah kenapa sih syiah itu mesti nyebar
Oleh: Anonymous on 28/04/2009
at 12:12