Orang menyebutnya “manusia perahu”. Keterpaksaanlah yang memaksa mereka melakoni nasib di atas sampan. Berlayar dari satu lautan ke lautan yang lain, samudera yang satu ke samudera yang lain, ke berbagai wilayah dan negara sejauh perahu mereka mampu berlayar. Hidup di tempat yang tak dipinta memang membosankan, malah menyakitkan, bahkan mengerikan.
Mereka adalah Muslim, etnis Rohingya yang aslinya adalah warga negara Myanmar. Namun kekejaman dan kebrutalan Junta militer, penguasa wilayah yang dulu disebut Burma itu, menghilangkan segala asa. Bahkan untuk sehembusan napas sekalipun. Junta tak pernah menganggap mereka ada. Ibarat noda dan aib yang harus dilenyapkan, dihilangkan. Dan begitulah hidup yang mereka terima. Buah dari perbedaan kulit, warna, kultur, agama, budaya dan bahasa.
Di tengah lajunya perubahan zaman yang mendera manusia, penyakit kuno itu masih ada dan kronis; rasisme. Ia melahirkan diskriminasi dan menumbuhkembangkan intimidasi dan anarki. Anarkis terhadap sesuatu yang terlihat “lain”. Dan Junta meleburkan diri dalam kubangan laknat itu. Menyingkirkan segala bentuk yang berbeda demi mengokohkan kesejatian. Sebuah jati diri semu di antara kemahaleluasaan dimensi kehidupan. Dus, yang menjadi korban adalah manusia perahu, orang-orang Rohingya tak berdosa.
Aneh memang, di tengah modernitas dan kecanggihan peradaban yang kini tercipta, sisa-sisa keprimitifan itu masih dipelihara, bahkan diabadikan menjadi sesuatu yang baka. Imortalitas yang mencoreng keelokan wajah sebuah kaum dan bangsa. Namun Junta tiada pedulikan itu semua. Rohingya harus musnah bersama hempasan gelombang, karena ia adalah sekat yang merintangi tercapainya sebentuk cita; keabadian etnis.
Primitifisme inilah yang kian menghumbalang kini, berkelindan bagai turun-naiknya gelombang lautan, menghempas Andaman hingga Malaka. Di Bumi Darussalam (Aceh), manusia perahu -si Rohingya- terdampar bersama harapannya. Harapan akan damai yang telah hilang, nun jauh di Arakan. Tersapu gelombang imortalitas dan primitifisme yang dibakakan sang Junta. Yang menciptakan “ketiadaan” bagi mereka yang liyan.
Ketiadaan ini dikonstruksi dalam tatanan hidup berbangsa dan bernegara. Membuat orang-orang Rohingya menjadi stateless di tanah air sendiri. Kampung halaman yang seharusnya nyaman, juga damai, berubah jadi ladang duka cita. Tempat menebar benih derita yang dipupuki darah dan air mata.
Ketika semua yang berbeda haruskan disingkirkan, maka pelarian adalah sebuah pilihan. Perahu, sampan, menjadi satu-satunya kampung damai untuk sekedar melepas lara. Namun tak semua pelarian itu mampu redakan duka. Ibarat terminal yang hanya memberi jeda bagi angkutan untuk sekedar menurun-naikkan penumpangnya. Bukan tempat penghentian yang permanen.
Nun jauh di sana, konon cerita, para pemimpin dari negara-negara yang disebut ASEAN diriuhi diskusi-diskusi diplomatik tentang nasib mereka. Sebuah ajang diplomasi yang hanya beradu kata, tanpa penyelesaian. Karena batas antara satu wilayah, negara yang satu dan yang lain, masih mengental. Sebuah simpul yang tak mudah dilepaskan oleh sepenggal belas kasih dan sikap berbagi.
Manusia perahu -Rohingya- pun akan terus berkelana; menyusuri gelombang samudera, mencari tempat di mana asa dan realita menjadi sebuah kesatuan yang saling bertautan.
Semoga para pemimpin ASEAN segera sadar dan tergerak hatinya untuk menyelesaikan masalah imigran Rohingya ini. Mereka juga manusia.
Oleh: Kirun on 26/02/2009
at 14:41