Perlakuan diskriminatif terhadap Muslim juga terjadi di Yunani, salah satu negara di selatan Eropa. Sejak lama para pemimpin Islam di negeri itu mengeluhkan sikap pemerintah terhadap komunitas Muslim.
“Ini adalah bom waktu,” ujar Naim el-Gadour, Ketua Persatuan Muslim Yunani, sebagaimana dilansir AFP. “Sekarang memang belum meledak, namun dalam 10 tahun ke depan akan menjadi masalah besar.”
Hal yang paling dikeluhkan komunitas Muslim di negeri itu adalah minimnya jumlah masjid dan area pemakaman. Puluhan ribu umat Islam dipaksa melakukan shalat di basement atau gudang tanpa jendela dengan sirkulasi udara minim, yang dijadikan sebagai masjid sementara.
Tahun lalu pemerintah Yunani menetapkan sebuah lokasi pembangunan masjid pertama di Athena, ibukota negara Eropa satu-satunya tanpa tempat ibadah unat Islam. Namun, hingga kini pembangunannya pun belum jua dimulai.
Umat Islam dari seluruh penjuru Yunani harus menempuh perjalanan ratusan kilometer ke utara untuk melakukan upacara pernikahan, pemakaman maupun perayaan hari besar Islam lainnya. “Kami melihat tidak ada masjid, tidak ada pemakaman. Secara mendasar, mereka telah membodohi kami,” kata Abu Mahmoud, salah seorang keturunan Maroko yang telah tinggal di Yunani sejak 1985.
Menurut CIA Fact Book, populasi Muslim di Yunani mencapai 1,3 persen di tengah mayoritas Kristen Ortodoks. Awal Mei lalu, sekitar 1.000 Muslim keluar ke jalan-jalan di Yunani, melakukan protes atas pelecehan al-Qur’an yang dilakukan oleh seorang polisi. Tujuh orang Muslim dan dan tujuh orang polisi terluka dalam bentrokan yang terjadi, sementara 46 orang pemrotes ditangkap.