Oleh: Chairul Akhmad | 08/06/2009

Neraka Bernama Afghanistan

Belum usai tugas pasukan AS di Irak, tugas baru menanti di Afghanistan. Tradisi perang nampaknya masih melekat pada negara Paman Sam itu.

Delapan tahun sudah pasukan AS bercokol di Afghanistan –setelah serangan 11 September 2001– untuk memerangi Taliban. Menciptakan perang yang kian kacau dan mematikan daripada sebelumnya.

Ketika pasukan AS pertama kali diterjunkan ke Afghanistan, tugas mereka adalah menggulingkan rezim Taliban, untuk kemudian ‘memerintah’ negeri itu serta menghancurkan sel-sel al-Qaidah. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, Taliban dikalahkan. AS kemudian membentuk pemerintahan yang dikepalai oleh Presiden Hamid Karzai di Kabul. Hingga 2009 ini, AS masih memerangi Taliban. Dan operasi-operasi al-Qaidah masih direncanakan dari Afghanistan, yang menciptakan kekacauan paling mematikan di kawasan.

Tahun 2001, muncul kekhawatiran dan ketakutan bahwa perang di Afghanistan akan menciptakan instabilitas di Pakistan, karena mayoritas etnis Pashtun –yang merupakan bagian terbesar anggota Taliban– menguasai perbatasan kedua negara. Ketakutan itu kini menjadi nyata, Taliban Pakistan mengancam kelangsungan program nuklir Pakistan. Inilah tantangan terbesar kebijakan politik luar negeri AS.

Presiden AS Barack Obama pun menambah 17,000 pasukan AS di Afghanistan. Perang Afghanistan terkini adalah perangnya Obama. Tujuannya, sebagaimana yang kerap disinyalir adalah untuk memerangi terorisme dan menciptakan stabilitas di Afghanistan.

Ketika Obama membeberkan strategi perangnya bulan lalu, ia menegaskan akan mengacaukan, membongkar dan mengalahkan al-Qaidah di Pakistan dan Afghanistan serta mencegah mereka kembali di kemudian hari. Namun pemenuhan misi tersebut membutuhkan sebuah komitmen berkelanjutan dan masif –yang melibatkan lebih dari sekedar penempatan pasukan di medan tempur. Al-Qaidah masih berkuasa di kawasan tribal tanpa pemerintahan sepanjang garis perbatasan kedua negara. Dan ketika para anggotanya mati terbunuh, rekrutmen baru segera menggantikannya.

Pasukan AS telah belajar bahwa untuk meniadakan kedudukan al-Qaidah di Afghanistan akan membutuhkan pembentukan pemerintahan yang dipercaya oleh rakyat Afghan, juga terciptanya keamanan dan tersedianya lapangan kerja. “Kami tidak akan membunuh sebagai jalan keluar dari perang ini,” kata Letkol Brett Jenkinson, salah seorang komandan batalion AS di Afghanistan. “Yang kita butuhkan adalah lancarnya rekrutmen yang lebih baik bagi kaum muda… Anda tidak dapat membangun harapan dengan kekuatan militer. Anda dapat membangunnya melalui pengembangan dan pemerintahan yang baik,” tegasnya sebagaimana dikutip TIME.

Obama juga telah menyinggung masalah pemisahan anggota “moderat” Taliban dari kaum yang ia sebut ekstrimis dan mengintegrasikan mereka ke masyarakat. Cara termudah untuk melakukan itu semua adalah dengan menyediakan kesempatan dan lapangan kerja. “Ini bukanlah soal memenangi hati dan pikiran. Kita juga harus mengisi perut. Dengan cara seperti itulah kita –dan pemerintah Afghanistan– akan sukses,” kata Ettore Francesco Sequi, Utusan Khusus Uni Eropa untuk Afghanistan.

Namun sukses di Afghanistan tidak akan berarti jika para pejuang –Taliban maupun al-Qaidah– menemukan tempat perlindungan di Pakistan. Menurut sejumlah komandan batalion AS, peperangan di negeri tetangga Afghanistan itu akan lebih kompleks dan tidak seperti yang terlihat. Militer Pakistan tidak memiliki keahlian dan sumber daya yang cukup untuk melakukan serangan balasan. Stabilisasi Afghanistan akan menjadi sangat krusial untuk mencegah kemungkinan terburuk kaum Islamis berkuasa di Pakistan. Itu salah satu alasan, kenapa kegagalan di Afghanistan bukan sebuah pilihan bagi AS. Mereka harus menang dengan segala cara, seberapa pun besar biayanya.

Tak heran, jika ongkos perang di Afghanistan lebih mahal ketimbang perang di Irak. Dari total anggaran Departemen Pertahanan AS sebesar USD 533,7 miliar yang disetujui untuk tahun ini, Gedung Putih meminta tambahan lagi sebesar USD 130 miliar. Rinciannya, USD 65 miliar untuk Afghanistan dan USD 61,7 miliar untuk Irak. “Permintaan ini bukan soal dolar atau tentara, tapi untuk meningkatkan kemampuan tempur dari medan Irak ke medan Afghanistan,” kata Steve Stanley, Wakil Laksamana Angkatan Laut AS seperti dikutip AFP.

Saat ini terdapat sekitar 136.000 pasukan AS di Irak, namun jumlahnya akan dikurangi hingga seluruhnya meninggalkan Irak pada akhir 2011. Pengurangan pasukan di Irak akan diiringi dengan pembangunan kekuatan tempur di Afghanistan yang menjadi prioritas Obama. Jumlah pasukan AS di Afghanistan lebih dari separuh jumlah pasukan asing lainnya, yaitu 45.000 tentara dari total 70.000 pasukan.

Dalam wawancara eksklusifnya dengan majalah Newsweek yang dimuat pada edisi 25 Mei 2009, Obama tak menampik bahwa tugas terberatnya saat ini terkait dengan penambahan pasukan AS di Afghanistan. Walau demikian, ia mengaku harus melakukannya. “Anda harus yakin telah memikirkan setiap sisi dan secara bersamaan harus menjalankan strategi terbaik yang memungkinkan. Anda harus pahami bahwa dalam situasi seperti Afghanistan tugas itu sangat sulit dan tidak ada jaminan. Itulah yang membuatnya menjadi keputusan kompleks dan sulit,” papar Obama.

Gila Perang
Walau pada pelantikannya sebagai Presiden AS Januari silam, Obama berjanji akan lebih menempuh jalur diplomasi ketibang aksi militer dengan musuh-musuhnya, nyatanya janji itu hanya pemanis bibir semata. Sebagaimana pendahulunya, George Bush, presiden kulit hitam pertama itu ternyata doyan perang. Dan Afghanistan adalah sasaran pertamanya. Baginya, sebutan doyan perang tak masalah baginya, asal kepentingan keamanan nasional AS terjamin. “Sebagai presiden saya harus membuat keputusan, apakah penggunaan kekuatan militer dalam situasi seperti ini akan sesuai dengan tujuan keamanan nasional AS yang lebih luas? Dan anda tidak akan dapat melakukannya tanpa pemahaman…” dalihnya.

Versi Obama, penambahan pasukan AS di Afghanistan lebih didasarkan pada beberapa hal; kemajuan Taliban, kehadiran pasukan AS yang semakin tidak mendapatkan simpati, dan kondisi sepanjang wilayah perbatasan yang kian meruntuhkan stabilitas Pakistan. “Setelah meninjau kembali strategi yang dijalankan dengan melibatkan semua aspek pemerintahan, serta mendengar masukan-masukan yang ada, dan merasa bahwa tiap pendekatan –yang memungkinkan– telah disimpulkan, pada saat itulah saya harus membuat keputusan. Dan saya pun memutuskannya,” tegasnya.

Obama mengatakan, tindakan militer di Afghanistan harus dilihat dalam konteks usaha yang lebih luas untuk menstabilkan keamanan, memberikan kesempatan dilakukannya pemilihan umum dan menyediakan ruang bagi pengembangan usaha-usaha vital yang dibutuhkan sehingga toleransi, keterbukaan, dan pemerintahan yang terpilih secara demokratis akan dianggap lebih legitimate ketimbang alternatif Taliban. “Dan komponen militer sangat penting untuk memenuhi tujuan tersebut, namun dengan sendirinya hal itu bukan elemen yang cukup,” dalihnya.

Walau demikian, sang presiden tidak yakin benar dapat menang dalam perang Afghan. “Kami tidak akan sukses hanya dengan menambah jumlah pasukan. Uni Soviet telah melakukan itu, namun tidak berjalan sempurna. Demikian juga Inggris,” ujarnya.

Bekas calon presiden AS yang dikalahkan Obama, John McCain, bahkan terang-terangan mengatakan AS akan kalah dalam perang Afghan. “Ketika anda menang dalam perang seperti ini, maka anda kalah. Dan, di Afghanistan saat ini, kita tidak menang,” sindir Senator Arizona itu sebagaimana dilansir CNN.

McCain menegaskan, situasi di Afghanistan sama mengerikannya dengan di Irak. “Kita lelah berperang… namun harus menang di (Afghanistan). Alternatifnya adalah mengambil resiko, dengan membiarkan negeri itu kembali kepada fungsinya sebagai tempat perlindungan teroris, di mana al-Qaidah dapat melatih dan merencanakan serangan terhadap AS,” kata veteran perang Vietnam itu.

Sebuah pilihan sulit tentunya. Apalagi perang Afghan dinsinyalir bakal berlangsung lama dan lebih mematikan ketimbang Vietnam. Letjen (Purn) David Barno, mantan Kepala Pasukan Koalisi mengungkapkan testimoninya tentang perang Afghan di hadapan Komite Bidang Angkatan Bersenjata Senat awal bulan lalu. Menurut Barno, keberadaan pasukan AS di Afghanistan akan bertahan hingga 16 tahun ke depan. “Tahun 2009 ini adalah tahun operasi hingga 2010. Tahun 2010 hingga 2015 adalah masa konsolidasi. Dan tahun 2015 hingga 2025 adalah masa transisi,” jelasnya usai menyerahkan paper lengkap berisi rencana besar militer AS di Afghanistan kepada senat.

Mungkin AS telah memperhitungkan segala sesuatunya. Dan Afghanistan pun kini menjadi Vietnam-nya Obama.

Perang Afghan Berakhir 2025

2009 – Operasi  Militer: Penempatan pasukan dalam jumlah besar untuk melindungi warga selama pemilihan presiden yang akan datang dan menstabilkan situasi kemanan.

2010 – Serangan Balasan: Menciptakan keamanan bagi penduduk sembari membangun institusi-institusi negara dan menjadi mentor bagi pemerintah Afghanistan.

2010-2015 – Konsolidasi: Memulai transisi selektif keamanan (Afghanistan) di utara dan timur.

2015-2025 – Transisi: Melanjutkan transisi selektif –sementara keamanan terjamin– dan menyerahkan kekuasaan kepada institusi-institusi Afghanistan yang bertanggung jawab.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori