Kemenangan Mahmoud Ahmadinejad dalam pemilu Iran pertengahan Juni lalu menuai kontroversi. Aksi jalanan dari kubu yang kalah membawa petaka. AS dan sekutunya ditengarai berada di balik semua ini.
Siang yang terik pada Sabtu dua pekan lalu itu kian terasa menyengat karena aksi demonstrasi yang mengepung Kota Teheran. Neda Agha Soltan dan karibnya yang tengah berada dalam mobil terpaksa keluar mencari udara segar. Aksi unjuk rasa yang cukup jauh dari tempat mereka melepas penat nampak memanas dan ricuh.
Tiba-tiba sebuah peluru menembus tubuh Neda yang membuatnya langsung terjerembab ke tanah. “Saya merasa terbakar,” ucap gadis yang berstatus mahasiswi itu, sebagaimana dikutip The New York Times, sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Kematian Neda kian mendidihkan situasi politik Iran yang selama sepekan lebih digoyang unjuk rasa menentang kemenangan Ahmadinejad. Media-media internasional seperti mendapatkan amunisi baru dalam menyerang kredibilitas hasil pemilu Iran. Liputan-liputan bernuansa memojokkan Iran menghiasi laman-laman surat kabar maupun televisi.
Merasa terganggu dengan pemberitaan media, terutama media Barat, para pejabat Iran angkat suara. Dua hari setelah kematian Neda, pemerintah Iran menuding kantor berita BBC (Inggris) dan Voice of America (AS) berusaha memecah-belah Iran dengan liputan mereka. “Pimpinan VOA dan BBC adalah anak-anak spiritual Benjamin Netanyahu dan Avigdor Lieberman. Tujuan mereka adalah melemahkan solidaritas nasional, mengancam integritas dan memecah-belah Iran,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Hassan Ghashghavi kepada wartawan.
Tak segan-segan, Hasan juga menuding kerusuhan yang terjadi di negerinya karena ulah BBC dan VOA. “Ini adalah agenda yang diberikan kepada VOA dan BBC setelah anggaran mereka disetujui oleh Kongres AS dan parlemen Inggris. Orang-orang yang bekerja di sana –BBC dan VOA– semuanya berada dalam garis yang sama,” tegasnya.
Pemerintah Iran menganggap BBC dan jaringan televisi kabel AS, CNN telah membangun ruang situasi dan ruang perang psikologis. Sepekan sebelumnya, koresponden tetap BBC di Teheran, Jon Leyne, telah diusir oleh pihak berwenang Iran karena dituduh mendukung para perusuh.
Melihat sikap Iran yang nampak keras dalam menghalau para demonstran, sejumlah kepala negara dan pimpinan pemerintahan mengeluarkan kritik hingga kecaman. Kritik paling pedas dan tajam dilontarkan oleh Presiden AS, Barack Obama langsung dari Gedung Putih. Obama mengaku marah dengan tindakan keras pemerintah Iran dalam menghalau demonstrasi hingga menyebabkan hilangnya nyawa Neda. Apalagi, televisi terus-menerus menayangkan detik-detik kematian perempuan lajang itu. “Amerika Serikat dan masyarakat internasional muak dan marah atas ancaman, pemukulan dan pemenjaraan yang terjadi di hari-hari terakhir ini,” kata Obama sebagaimana dikutip AFP.
Obama juga mengutuk keras perlakuan pemerintah Iran yang menghilangkan nyawa warganya yang tak berdosa. “Saya sangat mengutuk aksi yang tidak adil itu… Saya bersama rakyat Amerika berduka untuk semua dan setiap korban yang tidak berdosa yang meninggal,” ujarnya. Walau mempertanyakan legalitas hasil pemilu yang memenangkan Ahmadinejad, namun Obama menolak dikatakan mencampuri urusan dalam negeri Iran.
Tentu saja komentar Obama ini mengundang kegeraman Ahmadinejad. “Saya harap anda (Obama) menghindari campur tangan urusan Iran,” ujarnya. Ia juga menyindir bahwa Obama tak jauh beda dengan pendahulunya, George W Bush, karena menggunakan kata-kata yang mirip.
“Apakah anda akan menggunakan bahasa ini dengan Iran? Jika ini sikap anda, maka tak ada lagi yang perlu dibicarakan,” tegas Ahmadinejad. Ia juga menyebut Inggris dan negara-negara Eropa lainnya dipimpin oleh segerombolan orang yang terbelakang secara politik.
Sang Martir
Kontoversi kematian Neda juga menyeruak, setelah stasiun televisi Iran menayangkan kesaksian sopir taksi yang mengangkut jasad Neda dan kesaksian guru musiknya. Sang sopir mengatakan dirinya tengah melewati Jalan Salehi pada Sabtu itu. Ia melewati kerumunan dan melihat seorang perempuan terlentang di atas jalan. Dari mulutnya dan hidungnya keluar darah. “Saat itu, tidak ada pilihan lain bagi saya, kecuali turun dari mobil dan menaikkan perempuan malang tersebut ke atas mobil. Saya segera mengarahkan mobil ke arah rumah sakit,” tuturnya.
Adapun guru musik Neda, dalam kesaksiannya menuturkan, “Saat kejadian, ada sebuah mobil peugeot yang kemudian mengangkat Neda. Setelah itu, saya baru mengetahui bahwa pemilik mobil peugeot bernama Pouya.”
Penyelidikan lebih jauh atas kematian Neda menimbulkan kesangsian lain. Terdapat beberapa poin yang meragukan, di antaranya, rekaman video kematian Neda yang dipublikasikan media-media Barat menunjukkan bahwa Neda sudah disorot sejak lama. Sebab, rekaman video yang menayangkan Neda sebelum kematian adalah gambar 45 menit sebelum kejadian. Apalagi tempat kejadian yang jauh dari tempat kerusuhan yang saat itu terjadi di Jalan Azadi dan adanya minimal dua handycam yang merekam kejadian menunjukkan skenario di balik kejadian tersebut.
Tempat kematian Neda jauh dari tempat kerusuhan. Milisi Basij dan polisi yang dituding terlibat dalam kematian Neda, mestinya ditempatkan di tempat kerusuhan bukan di wilayah yang jauh dari lokasi. “Ini adalah tempat warga berkerumun. Saat itu, tidak ada demonstrasi di sini. Kami menyeberang dari samping jalan untuk naik mobil. Ketika sampai di belokan jalan, terdengar suara tembakan,” ungkap guru musik Neda sambil menunjuk lokasi kejadian.
Berdasarkan laporan hasil forensik, peluru yang ditembakkan ke Neda sejenis kaliber kecil dari sebuah pistol yang ditembakkan dari jarak dekat saat Neda berjalan kaki. Padahal polisi dan milisi Basij tidak menggunakan pistol dalam menghadapi para demonstran.
“Suara tembakan peluru yang dimuntahkan mirip suara petasan,” kata sang guru musik. “Saat itu tidak ada konflik senjata, karena tidak ada aparat keamanan yang bersiaga di wilayah tersebut. Di sana hanya ada sejumlah warga saat suara peluru terdengar yang kemudian mengenai Neda.”
Melihat beberapa kejanggalan tersebut, pemerintah Iran menyimpulkan bahwa kematian Neda adalah skenario yang sengaja dibuat untuk memperkeruh suasana.
Menteri Dalam Negeri Iran, Sadeq Mahsouli, menuding para perusuh yang terlibat aksi kekerasan yang mengakibatkan korban jiwa itu dibiayai oleh CIA dan kelompok oposisi Iran. “Banyak perusuh punya hubungan dengan AS, CIA dan Monafeghin (kelompok oposisi Iran) dan didanai oleh mereka,” kata Mahsouli. Ia juga menuduh rezim Zionis Israel termasuk di antara biang kerusuhan.
Pemilu Iran Sah
Iran tidak menghiraukan pernyataan Obama tentang legitimasi hasil pemilu dan kemarahannya atas tindakan represif pemerintah terhadap demonstran. Pihak berwenang di Iran juga menolak membatalkan hasil pemilu yang disengketakan. Namun Pemimpin Spiritual Tertinggi, Ayatullah Ali Khamenei setuju memperpanjang batas waktu penyampaian keluhan pemilu selama lima hari ke depan. Hingga berita ini ditulis, proses hukum sengketa pemilu masih terus bergulir.
Walau demikian, Badan pengawas pemilu Iran –Dewan Garda– menegaskan tidak akan ada pemilu ulang. “Kami melihat tidak ada kecurangan dan pelanggaran besar. Oleh karena itu, tidak ada kemungkinan pembatalan hasil pemilu,” kata Juru Bicara Dewan Garda, Abbasali Kadkhodai sebagaimana dilansir Press TV.
Ayatullah Ali Khamenei juga menegaskan bahwa pemerintah takkan tunduk dalam menghadapi protes oposisi. “Dalam kejadian baru-baru ini, terkait pemilihan umum, saya telah mendesak diterapkannya hukum. Baik sistem maupun rakyat takkan tunduk pada kekerasan,” kata Ali Khamenei. Kata-kata Khamenei tersebut ibarat petunjuk akhir bahwa para ulama takkan membiarkan kontroversi mengenai terpilihnya kembali Mahmoud Ahmadinejad.
Walau tidak akan menggelar pemilu ulang, namun tiga hari kemudian Badan Pengawas Pemilu Iran membentuk komisi khusus dari para wakil calon-calon yang kalah untuk membuat laporan tentang pemilihan presiden. “Dewan Garda telah memutuskan untuk membentuk komisi khusus dari para tokoh politik dan wakil calon yang memprotes untuk menyusun laporan mengenai pemilihan,” kata Kahkodai, kepada kantor berita Iran, IRNA.
Sepuluh persen suara akan dihitung kembali dengan kehadiran komisi ini dan laporan tersebut akan disiarkan kepada publik. “Penghitungan kembali suara akan dilakukan dengan kehadiran media,” lanjut Kakhodai.Para calon yang kalah, terutama Mir Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi diminta untuk mengajukan nama calon-calon mereka sebagai anggota komisi dalam waktu 24 jam guna menghilangkan keraguan mengenai pemilihan.
Sementara itu, selain berbuntut kekerasan dan korban nyawa, aksi unjuk rasa di Teheran juga menyebabkan beberapa orang ditahan. Para pejabat Iran berikrar akan menindak tegas semua dalang kerusuhan. Aparat keamanan menangkap sekitar 140 orang yang terdiri dari politikus, wartawan, dosen hingga mahasiswa. Dan korban tewas diperkirakan sebanyak 17 orang.
Dua pekan usai pemilihan, suasana ibukota Iran, Teheran mulai membaik. Tiap sudut jalan yang biasanya riuh dan ramai, tampak lengang dan sepi. Hal ini terjadi karena sikap tegas pemerintah Iran dalam menghalau demonstrasi. Apalagi, pejabat terkait di negeri para mullah itu tak segan-segan akan menindas setiap aksi unjuk rasa yang mengarah anarkis.
Sikap keras pemerintah Iran terhadap intervensi negara-negara lain memang menimbulkan kecaman sejumlah pihak. Namun, ketegasan kadang diperlukan guna mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara sendiri, apapun resikonya.
Oleh: mosa on 20/07/2009
at 21:11