Oleh: Chairul Akhmad | 21/07/2009

Rasis Keji di Negeri Hitler

Wanita Muslimah ini menjadi korban kebiadaban warga Jerman. Ia dibunuh secara sadis ketika tengah berjuang membela haknya di pengadilan.

Namanya Marwa al-Sharbini, ia baru saja hendak bersaksi di pengadilan Dresden awal Juli lalu, ketika tiba-tiba seorang pria Jerman menikamnya dengan belati berkali-kali yang langsung membuatnya ambruk.

Wanita yang tengah hamil tersebut hadir di persidangan untuk bersaksi melawan pria yang melecehkan dirinya karena memakai jilbab. Suaminya yang tengah mempersiapkan diri melanjutkan kuliah S2-nya bulan depan, juga terluka ketika mencoba melindungi istrinya.

Kejahatan keji ini menyulut berbagai kecaman masyarakat dan memicu kecaman dari lembaga-lembaga Islam dan sipil Eropa serta negara-negara Islam. Koordinasi Muslim di Jerman (KRM) menyebut aksi pembunuhan sadis terhadap mahasiswi program doktor farmasi yang tengah mengandung tersebut sebagai bentuk stigma Barat terhadap Islam.

Sharbini berada di pengadilan kota Dresden untuk membela haknya yang diinjak-injak oleh seorang warga Jerman berkebangsaan Rusia bernama Alex. Namun di pengadilan, Alex malah menyerang Muslimah ini dengan pisau sebanyak 18 kali tusukan. Sang suami yang hendak menolong istrinya, malahh terkena tembakan nyasar petugas kepolisian Jerman. Berdasarkan kabar terbaru, luka tembak yang diderita suami Sharbini sangat parah.

Tragedi syahidnya Sharbini kembali lagi menunjukkan bahwa Muslim Jerman dan Eropa berada dalam ancaman rasisme. KRM dalam statemennya mengungkapkan bahwa kematian Sharbini menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan di kalangan umat Islam Eropa.

Ironisnya, pemerintah Jerman malah menganggap peristiwa terbunuhnya Sharbini sebagai kasus kriminal biasa. Pemerintah dan media Jerman juga bertindak diskriminatif dalam peliputan peristiwa terbunuhnya Sharbini. Media Jerman hanya memberitakan peristiwa ini di kolom kriminal biasa.

Padahal, jika tragedi tersebut terjadi di negara yang jauh dari Barat, peristiwa ini akan menjadi berita paling hangat di dunia. Seorang bloger Mesir bernama Hicham Maged, dalam blognya menulis, “Mari kita bayangkan, jika kondisinya dibalik, korban adalah seorang warga di negara Barat di salah satu negara Timur Tengah oleh seorang Muslim ekstrim.”

Pemerintah Barat yang mengklaim diri sebagai pembela kebebasan dan keadilan, setiap hari melakukan pengawasan ekstra ketat terhadap umat Islam yang menjalankan ajaran agama mereka. Bahkan, sejumlah daerah di Jerman melarang guru dan siswa mengenakan jilbab di lingkungan sekolah. Alex, pembunuh Sharbini tumbuh di lingkungan islamophobia Jerman yang dipupuk sejak mereka berada di sekolah dasar.

Hari Jilbab Sedunia
Walau pemerintah Jerman berupaya menutup-tutupi kematian Marwa al-Sharbini, cerita tentang Muslimah itu mulai menyebar dan mengguncang komunitas Muslim di berbagai negara. Untuk mengenang Sharbini, muncul usulan untuk menggelar Hari Hijab Internasional yang langsung mendapat dukungan dari komunitas Muslim di berbagai negara.

Usulan ini dilontarkan oleh Ketua Majelis Perlindungan Hijab (APH), Abeer Pharaon lewat situs IslamOnline.net. Abeer mengatakan, Sharbini adalah seorang syahidah bagi perjuangan Muslimah yang mempertahankan jilbabnya. “Ia menjadi korban Islamofobia, yang masih dialami banyak Muslim di Eropa. Kematian Marwa layak untuk diperingati dan dijadikan sebagai Hari Hijab Sedunia,” katanya.

Usulan Abeer disambut oleh sejumlah pemuka Muslim dunia antara lain Rawa al-Abed dari Federasi Organisasi Islam Eropa (FIOE). “Kami mendukung usulan ini. Kami juga menyerukan agar digelar lebih banyak lagi kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang hak-hak Muslimah di Eropa, termasuk hak mengenakan jilbab,” kata Abed.

Selama ini, masyarakat Muslim di negara-negara non-Muslim memperingati Hari Solidaritas Jilbab Internasional setiap pekan pertama bulan September. Hari peringatan itu dipelopori oleh APH sejak tahun 2004, sebagai bentuk protes atas larangan berjilbab yang diberlakukan di Perancis.

Amina Nusser, profesor teologi dan filsafat di Universitas al-Azhar, mendukung proposal Hari Hijab Dunia. “Ini akan menjadi respon praktis terhadap pertentangan akan hijab. Dan akan menjadi kesempatan untuk mengingatkan Barat atas ketidakadilan mereka terhadap perempuan Muslim,” ujarnya.

Nusser bersikeras bahwa kebutuhan perempuan Muslim untuk memakai pakaian yang sopan tidak berbeda dengan agama lainnya. “Perempuan Kristen Ortodoks masih memakai kerudung dan pakaian yang sopan sebelum masuk gereja.”

Mohamed al-Bazzawi, Ketua Asosiasi Muslim Denmark, menyetujui rencana pembentukan hari hijab itu. Dalam pandangan Bazzawi, Hari Hijab akan mengingatkan orang-orang Barat bahwa adalah hak seorang perempuan Muslim untuk memakai apa yang dia suka. Sama dengan perempuan non-Muslim yang memakai apa mereka inginkan. “Mereka yang hanya berbicara tentang hak-hak perempuan di Barat seharusnya menyadari bahwa mereka tidak boleh menolak hak perempuan Muslim untuk memakai hijab,” tegasnya.


Tanggapan

  1. Mari kita dukung pencanangan Hari Hijab sedunia…

  2. syahid..syahid..syahid…

    jika kekuatan tauhid sudah menggelegak didalam dada…..

    maka wahai anjing kafir……… musuh ALLAH AZZA WA JALLA

    sebentar lagi saatnya menyembelih kepala kalian


Beri tanggapan

Your response:

Kategori