Perdamaian antara Sunni dan Syiah itu koyak sebelum dirajut. Iran menuding adanya keterlibatan intelijen asing macam AS dan Inggris. Tak hanya itu, Pakistan yang merupakan negara tetangga Iran, juga tak luput dari tudingan.
Hari yang seharusnya menjadi penanda perdamaian antara Muslim Sunni dan Syiah di Iran ternoda oleh aksi teror. Sebuah bom bunuh diri meledak dan menewaskan 57 orang di Kota Pishin, Provinsi Sistan-Baluchistan, Iran, pada Ahad (18/10).
Kantor berita Iran IRNA melaporkan, di antara yang tewas termasuk Wakil Komandan Darat Garda Revolusi, Jenderal Noor Ali Shooshtari dan Komandan Provinsi, Rajab Ali Mohammadezadeh. Korban tewas lainnya adalah anggota sejumlah Garda Revolusi serta beberapa pemimpin suku-suku setempat. Ledakan maut itu juga melukai ratusan orang lainnya.
Serangan ini termasuk yang paling keras dan mematikan terhadap Garda Revolusi dalam beberapa tahun belakangan. Garda Revolusi adalah pasukan khusus, yang dianggap paling setia pada nilai revolusi 1979 dan pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Pasukan ini menangani keamanan di daerah rawan perbatasan dan sumber daya serta kekuasaannya meningkat dalam beberapa tahun belakangan.
Saat serangan terjadi, rombongan Garda Revolusi dalam perjalanan menuju tempat pertemuan dengan para pemimpin suku-suku di Kota Pishin, dekat perbatasan Pakistan. Tiba-tiba seseorang meledakkan bom yang dipasang di pinggangnya. Ledakan terjadi di pintu masuk kompleks olahraga, tempat pertemuan dilangsungkan.
Pertemuan tersebut sedianya merupakan upaya untuk menyatukan komunitas Syiah dan Sunni di provinsi tersebut. Seorang pejabat Provinsi Sistan-Baluchistan mengatakan, kelompok militan dari kalangan minoritas Sunni yang menamakan diri Jundullah (Tentara Allah) mengaku bertanggung jawab atas serangan bom tersebut.
Kawasan Sistan-Baluchistan merupakan fokus serangan Jundullah sejak beberapa tahun terakhir. Mereka menuding pemerintah Iran yang didominasi Syiah, melakukan penganiayaan terhadap warga Sunni. Ratusan orang tewas sejak gerilyawan Baluch memberontak terhadap Islamabad pada 2004. Mereka juga meminta otonomi politik dan bagian lebih besar dari keuntungan kekayaan sumber alam wilayah itu.
Pemerintah Iran menuding Jundullah mendapat dukungan dari kelompok al-Qaidah dan Taliban yang berada di Pakistan. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengecam serangan tersebut dan bersumpah akan melakukan serangan balasan. Tak hanya itu, presiden yang kini menjabat untuk kedua kalinya juga menengarai adanya campur tangan asing. Terutama AS dan sekutunya, Inggris.
Iran khawatir AS mencoba menjadikan kelompok-kelompok minoritas sebagai alat melawan pemerintah Iran, apalagi pemerintah Ahmadinejad ditengarai telah melakukan kecurangan dalam pemilu beberapa waktu lalu.
Dituding terlibat dalam serangan mematikan tersebut, AS menolak dan menyebutnya tuduhan salah alamat. Jurubicara Departemen Luar Negeri AS, Ian Kelly, mengecam serangan teror ini. “Kami mengutuk aksi terorisme itu dan berduka cita atas kehilangan jiwa tak berdosa. Laporan dugaan keterlibatan AS sangat salah,” kata Kelly dalam pernyataan singkatnya.
Inggris juga tidak mau disebut-sebut terlibat dalam aksi Ahad kelabu itu. “Kami sangat menolak pernyataan apa pun bahwa serangan itu berkaitan dengan Inggris,” kata Jurubicara Perdana Menteri Gordon Brown, sebagaimana dikutip AFP. “Sangat penting bahwa kami terus dalam jalur diplomatik dengan Iran,” imbuh sang Jubir.
Selain AS dan Inggris, pemerintah Iran juga menengarai adanya keterlibatan Pakistan. Ahmadinejad mengatakan, para agen keamanan di Pakistan bekerja sama dengan para anggota kelompok garis keras dalam serangan bom Ahad itu. “Kami mendapat informasi bahwa beberapa agen keamanan di Pakistan bekerja sama dengan unsur-unsur utama teroris ini… Adalah hak kami untuk menuntut para penjahat ini,” kata Ahmadinejad, kepada Fars.
Ahmadinejad meminta Pakistan tidak membuang waktu dan segera bekerja sama dengan Iran guna membekuk para pelaku. Pemerintah Pakistan dengan tegas menolak tuduhan Iran tersebut. “Pakistan tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan teroris … kami sedang berusaha melenyapkan ancaman itu,” kata Jurubicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Abdul Basit. Secara resmi Pakistan juga mengecam keras aksi terorisme mengerikan tersebut.
Dewan Keamanan (DK) PBB, yang biasanya ‘anti’ dengan Iran, juga mengutuk teror di Pishin itu. “Semua anggota DK mengutuk dengan nada paling keras serangan teror mematikan yang terjadi di kota perbatasan Pishin di Iran pada 18 Oktober 2009, sehingga menewaskan sedikitnya 57 orang dan melukai 150 orang lagi. Anggota DK menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga korban, serta rakyat dan pemerintah Iran,” demikian bunyi pernyataan yang dibacakan oleh Presiden DK PBB, Le Luong Minh, di New York.
DK PBB menegaskan perlunya menyeret pelaku, organisasi, penyandang dana dan pelaku teror yang tercela ini ke pengadilan. “Semua anggota DK menyampaikan kembali tekad mereka untuk memerangi semua bentuk terorisme, sejalan dengan tanggung jawabnya berdasarkan Piagam PBB,” lanjut Le Luong Minh.
Tentara Allah
Selama hampir satu dasawarsa ini, Jundullah telah melancarkan perlawanan terhadap Teheran. Sang martir, pelaku bom bunuh diri adalah Abdolvahed Mohammadi Saravani. Jundullah menyebut aksi Saravani sebagai bom syahid dan pembalasan atas luka rakyat Baluch, yang bertahun-tahun mengalir tanpa henti.
Dipimpin oleh Abdulmalek Rigi, Jundullah telah melakukan gelombang pengeboman dan serangan di Iran, salah satunya menewaskan 25 warga Iran Juni lalu. Abdulhamid Rigi, saudara laki-laki pemimpin Jundullah, mengatakan dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa Abdulmalek telah mengadakan beberapa pertemuan rahasia dengan agen-agen FBI dan CIA di Karachi dan Islamabad. Dalam sebuah pertemuan menjelang dilakukannya serangan, dua agen wanita AS menawarkan persenjataan, markas yang aman di Afghanistan, dan pelatih profesional kepada Jundullah.
Komandan Garda Revolusi Iran, Jendral Mohammad Ali Jafari, meminta Pakistan menyerahkan Rigi. Jafari mengatakan satu delegasi Iran akan ke Pakistan dan menyampaikan bukti-bukti. “Delegasi itu akan meminta dia (Rigi) diserahkan,” kata Jafari.
Jafari juga menuduh Rigi mendapat perintah dari badan-badan intelijen Inggris, Pakistan dan AS. “Kelompok Rigi memiliki kontak langsung dengan badan-badan intelijen Amerika dan Inggris dan juga dengan badan intelijen Pakistan,” kata Jafari. “Ia didukung oleh mereka dan tanpa diragukan bertindak atas perintah dan rencana-rencana mereka.”
Robert Baer, mantan agen lapangan CIA di Timur Tengah, mengatakan pada hari Sabtu (17/10), Washington telah menjalin hubungan dengan Jundullah meski mengetahui tabiat kelompok teroris itu. “Intelijen Amerika juga telah menjalin kontak dengan Jundullah. Namun kontak itu, seperti yang diketahui Iran, terbatas hanya untuk mengumpulkan intelijen mengenai negara tersebut,” ujar Baer sebagaimana dilansir AP. Namun, kata Baer, hubungan AS dan Jundullah tidak pernah berbentuk formal, dan kontak yang terjadi hanya dilakukan sesekali.
Perburuan teroris
Iran bekerja keras dalam memburu para pelaku teror, hasilnya dalam tiga hari, aparat berwenang berhasil menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat. Iran tak bekerja sendirian, pemerintah Pakistan menepati janjinya memberikan segala bantuan yang dibutuhkan. Bahkan Pakistan telah menahan dan menyerahkan para tersangka utama kepada Iran.
Namun demi alasan keamanan, nama-nama para tersangka masih belum dibeberkan. “Karena alasan keamanan, saya tidak merinci nama mereka. Tapi teroris itu orang Iran, namun yang menemani pelaku bom bunuh diri belum tertangkap,” kata Mohammad Marziah, Jaksa Zahedan, ibukota propinsi Sistan-Baluchistan.
Guna mengintensifkan kerja sama kerja sama dalam perburuan teroris, Menteri Dalam Negeri Iran, Mostafa Mohammad Najjar, berkunjung ke Pakistan, Jumat (23/10). Selain itu, kedatangan Najjar juga untuk membicarakan cara-cara menindak tegas kelompok gerilyawan Jundullah.
Pakistan pada masa lalu merupakan pendukung kelompok-kelompok garis keras Sunni. Khususnya di Afghanistan tahun 1980-an, ketika negara itu berperang melawan pasukan pendudukan Soviet. Pakistan juga mendukung kelompok garis keras yang memerangi pasukan keamanan India di wilayah Kashmir yang dilanda konflik.
Kini, di tengah upaya damai yang dirajut Iran di wilayah perbatasannya dengan Pakistan, aksi teror menyeruak. Benarkah Pakistan terlibat?