Ma’assalamah!
Tafakur edisi ini sedikit berbeda dan merupakan Tafakur terakhir yang saya tulis di majalah Sabili. Karena menjadi tulisan terakhir, maka gaya bertuturnya pun agak menyimpang; mungkin bisa disebut semacam ‘curhat’.
Sungguh merupakan anugerah yang sangat berharga bagi saya pribadi, bisa bergabung dengan media sebesar Sabili. Majalah Islam yang menyuarakan aspirasi umat, mengadvokasi mereka dengan sudut pandang berbeda dibanding media mainstream namun tetap dalam koridor jurnalisme yang etis.
Rasanya baru kemarin bergabung dengan rekan-rekan kerja, yang Insya Allah memiliki ghirrah dakwah tinggi di media ini. Di tengah dahsyat dan masifnya gelombang pemberitaan media umum yang kadang tak berpihak pada umat, kehadiran Sabili—juga media Islam lainnya—bak tetes-tetes air yang menyegarkan dahaga informasi.
Secara umum, saya bergabung di Sabili dalam dua periode; 2005-2007 dan 2008-2011. Dan insya Allah, sebagaimana pengunduran diri saya pada 2007, maka pengunduran diri yang kedua ini adalah demi kebaikan semata.
Namun putusnya hubungan kerja atau hubungan keperdataan dengan Sabili bukan berarti memutus tali silaturrahim. Kita boleh berada di ruang dan tempat yang berbeda, namun semangat ukhuwah sebagai umat Muhammad saw harus tetap dijaga.
Suguhan kopi atau teh dari rekan-rekan di bagian umum, takkan saya nikmati lagi. Canda-tawa dengan rekan-rekan di bagian produksi di sela-sela kerja, otomatis terhenti. Keseriusan rapat yang kadang ditingkahi guyon dengan teman-teman redaksi, juga telah berakhir.
Kebersamaan dan hangatnya pertemanan dengan kawan-kawan di bagian sekuriti, walaupun usai namun takkan terlupakan. Wajah “masam” milik seorang sahabat di bagian keuangan, yang kadang nampak magis ketika saya sodorkan kertas kasbon, tiada terlihat lagi. Dan yang juga mengenangkan, saya takkan lagi menjawab panggilan seorang pimpinan dengan kata-kata ajaib; Labbaik ya, Syekh!
Saya hanya berharap, semoga semangat kebersamaan yang telah terjalin sekian lama ini tak tergerus begitu saja oleh sebuah perpisahan. Memang benar kata orang, di mana ada pertemuan di situ ada perpisahan. Namun saya percaya, bahwa perpisahan yang terjadi ini adalah dalam bingkai khusnul khatimah.
Satu kata yang dapat saya ucapkan pada Sabili; Ma’assalamah! Selamat tinggal, sukses selalu untukmu.