Qaddafi di Tubir Jurang
Gelombang revolusi yang menyapu Tunisia dan Mesir, kini mengarah ke Libya. Akankah Sang Raja Diraja terguling dari singgasananya?
Malam itu, Selasa (15/2), ratusan warga kota Benghazi, Libya, turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi. Mereka menuntut para aktivis hak asasi manusia (HAM) yang ditangkap agar dibebaskan.
Para demonstran melakukan aksi di depan kantor pemerintah, kemudian bergerak menuju Shajara Square. Di lokasi ini mereka bertemu dengan kelompok pro pemerintah dan polisi, dan terjadilah bentrokan. Akibatnya, sebanyak 14 orang luka ringan, 10 diantaranya adalah polisi. Bentrokan pun berakhir, kelompok pro pemerintah mampu menguasai Shajara Square.
Salah seorang warga Benghazi menuturkan, pendemo menuntut tahanan politik yang ditahan di penjara Abu Salim Jail, Tripoli dibebaskan. “Semalam situasinya sangat buruk,” kata salah seorang saksi yang tak mau disebutkan namanya.
Aksi Selasa malam itu, tidak berakhir di situ saja. Keesokan harinya, aksi demonstrasi di Benghazi terus berlanjut dan meluas ke berbagai kota lain di Libya. Untuk melemahkan semangat para demonstrans aparat keamanan mulai menggunakan peluru tajam. Tak pelak, kerusuhan pun meletus dan memakan korban jiwa. Ini adalah kerusuhan terburuk dalam empat dekade kepemimpinan Kolonel Muammar Qaddafi.
Para penembak jitu melepaskan tembakan ke arah demonstran dari sebuah kompleks bangunan komando militer. Akibatnya puluhan tewas orang tewas. “Kita berada di tengah-tengah pembantaian di sini,” kata seorang warga sebagaimana dikutip Reuters. Pria tersebut mengaku membantu membawa para korban ke rumah sakit setempat.
Situasi semakin kacau, jumlah massa yang menentang Qaddafi kian membesar. Mereka menuntut penguasa Libya yang telah bercokol selama 42 tahun itu turun tahta. Seiring dengan memanasnya aksi unjuk rasa, aparat keamanan juga kian ganas dalam menghalau mereka. Akibatnya korban jiwa kembali berjatuhan.
Lembaga HAM internasional, Human Rights Watch (HRW) menyebutkan 84 orang tewas selama tiga hari unjuk rasa di Bengazhi, kota terbesar kedua yang terletak sekitar 1.000 kilometer di timur ibukota Tripoli.
Tindakan keras pemerintah Libya ini disesalkan para pemimpin Islam di negeri itu. Sekitar 50 pemimpin Muslim Libya mengeluarkan imbauan kepada pasukan keamanan agar menghentikan pembunuhan. “Ini adalah satu imbauan mendesak dari tokoh agama, kaum intelektual, dan para pemimpin suku… Kami menyerukan semua warga Muslim, rezim Qaddafi atau yang membantunya… Jangan membunuh saudara-saudara anda. Hentikan pembunuhan sekarang!” kata imbauan yang salinannya dikirim ke berbagai kantor berita internasional itu.
Walau telah menelan korban jiwa, namun aksi massa bukan menurun, malah kian membesar. Massa bahkan berhasil menguasai Benghazi. Seiring dengan meningkatnya unjuk rasa sejumlah pejabat pemerintahan Libya di dalam maupun luar negeri ramai-ramai mengundurkan diri. Alasannya hampir seragam, mereka menolak pemerintah membantai dan membunuh rakyat sendiri. Pengunduran diri sejumlah pejabat ini kian menurunkan kredibilitas Qaddafi.
Selain itu, sekelompok kolonel tentara di Benghazi ramai-ramai membelot dan menentang sang penguasa terlama di benua Afrika tersebut. “Kami memiliki rencana untuk menguasai Tripoli. Kami tidak akan berhenti sampai kami membebaskan seluruh negeri,” kata Kolonel Tareq Saad Hussein, salah seorang dari tujuh mantan kolonel yang membelot dan membela demonstran.
Setelah Benghazi, giliran Misrata, kota terbesar ketiga Libya, jatuh ke tangan para penentang Qaddafi, dalam kurun waktu kurang dari sepekan. Penduduk Misrata—kota pesisir sekitar 130 kilometer di timur Tripoli—mengatakan warga setempat berhasil mengamankan kota itu setelah pasukan pemerintah membelot.
Sang Qaid Salahkan al-Qaidah
Qaddafi menyalahkan revolusi yang menentang kekuasaannya pada Osama bin Laden. Ia menyebut pemimpin al-Qaidah itu sebagai penjahat yang sebenarnya dan mendesak rakyat Libya agar tidak terpengaruh olehnya. “Bin Laden adalah musuh yang memanipulasi rakyat. Jangan terpengaruh oleh Bin Laden!” teriak Qaddafi dalam sebuah pidato di televisi.
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bela sungkawa bagi mereka yang tewas dalam pertumpahan darah dan menyerukan agar rakyat tenang. Qaddafi juga menuduh para pemrotes telah mengonsumsi narkoba. “Kalian di Zawiyah berpaling ke Bin Laden. Mereka memberi kalian obat-obatan,” ujarnya.
Selain itu, pemimpin yang biasa tinggal di tenda ini menyebut anak-anak muda bersenjata yang melawan pasukan keamanan telah dihasut oleh orang-orang yang diburu AS dan dunia Barat. “Situasinya berbeda dengan Mesir atau Tunisia. Di sini kekuasaan ada di tangan kalian, di tangan rakyat. Kalian bisa mengubah kekuasaan semau kalian. Itu keputusan kalian. Aku hanya memiliki kekuasaan moral,” kata sosok yang kerap disebut sebagai pemimpin revolusi itu.
Qaddafi juga bersumpah akan tetap berada di Libya sebagai pemimpin revolusi, dan akan mati sebagai martir di tanah leluhurnya, berjuang hingga titik darah penghabisan. Dia memerintahkan militer dan polisi menghancurkan pemberontakan yang menentang kekuasaannya. Padahal telah ratusan orang tewas jadi korban.
Qaddafi mengatakan kepada para pendukungnya bahwa ia akan membuka gudang senjata ketika dibutuhkan untuk mempersenjatai rakyat Libya melawan musuh. “Kita bisa menghancurkan musuh apa pun. Kami bisa menghancurkannya dengan keinginan rakyat. Dan ketika dibutuhkan, kami akan membuka gudang senjata untuk mempersenjatai semua rakyat Libya dan suku Libya,” ancam penguasa yang menyebut diri Raja Diraja ini.
“Jika orang-orang tidak mencintai Qaddafi maka ia tidak layak untuk hidup. Jika orang-orang Arab tidak mencintai Qaddafi, maka Muammar Qaddafi tidak layak untuk hidup. Bersiap-siaplah bertempur untuk Libya… Bersiaplah bertempur untuk kehormatan, bertempur untuk minyak!” tegasnya.
Akibatnya aparat keamanan Libya kian brutal dalam menghalau aksi massa, sementara warga juga tak mau kalah. Mereka mulai melakukan serangan bersenjata secara sporadis. Lagi-lagi korban jiwa kian tak terbendung. Menurut sejumlah kantor berita internasional, hingga berita ini ditulis, tak kurang dari 1.000 yang tewas. Namun laporan-laporan tersebut belum dapat diverifikasi.
Melihat aksi Qaddafi yang kian menjadi-jadi, Dewan Keamanan (DK) PBB memutuskan menjatuhkan sanksi terhadapnya, setelah anggota DK menggelar sidang sepanjang Sabtu (26/2) di Markas Besar PBB, New York. Melalui pemungutan suara, 15 anggota DK PBB sepakat mengeluarkan Resolusi Nomor 1970/2011 yang berisi keputusan untuk menerapkan sanksi berupa pembekuan aset dan larangan bepergian terhadap Muammar Qaddafi, kelima anaknya serta 10 orang terdekatnya.
Resolusi ini dikeluarkan sebagai langkah untuk segera menghentikan kekerasan di Libya, memastikan pertanggungjawaban oleh pelaku kekerasan dan memudahkan aliran bantuan kemanusiaan ke negara tersebut. Kelima belas negara anggota DK juga sepakat menyerahkan tindakan keras yang dilakukan aparat pemerintahan Libya kepada pengadilan kejahatan perang permanen, agar pengadilan tersebut mengadakan investigasi terhadap kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan.
DK PBB juga menerapkan embargo senjata dan meminta semua negara untuk tidak menyediakan persenjataan bagi Libya. Sehubungan dengan itu, Libya juga dilarang mengekspor senjata ke negara manapun. DK PBB menyuarakan keprihatinan atas jatuhnya korban jiwa di kalangan warga sipil, juga secara tegas menolak hasutan, permusuhan dan kekerasan terhadap warga sipil yang dilakukan oleh para pemimpin Libya.
Sanksi yang dikenakan PBB terhadap Qaddafi bukan yang pertama kalinya. Libya pernah dijatuhi sanksi PBB setelah agen-agen Libya dicurigai menanam bom yang meledakkan pesawat Pan Am 103 di atas kota Lockerbie, Skotlandia, pada 1988 hingga menewaskan 270 penumpang yang sebagian besar warga AS.
Akan Tumbang?
Khaled Mahmoud, pakar Libya dari Mesir, memperkirakan Qaddafi akan segera tumbang. “Sinyal paling jelas bahwa Qaddafi akan segera jatuh adalah pembelotan korps diplomatiknya dan sejumlah perwira militer,” kata Mahmoud.
Seperti hari-hari terakhir Mubarak, Qaddafi juga diasingkan dunia. Dan seperti Mubarak pula, semakin banyak saja tentaranya yang membelot. “Militer yang masih bersamanya akan segera sadar bahwa senjata tak lagi dapat digunakan untuk menghadapi warga sebangsanya dan mereka akan berbalik melawan dia,” lanjut Mahmoud.
Larbi Sadiki, pakar Timur Tengah di Universitas Exeter, Inggris, menganggap sang Kolonel telah berada di tubir jurang. “Ia kini menuai apa yang telah ditaburnya dulu, yaitu teror, nepotisme, politik suku dan penyalahgunaan wewenang,” ujarnya.
Dalam pandangan Sadiki, setelah Saddam Hussein di Irak dan Ben Ali di Tunisia, Qaddafi adalah penguasa tak sah terburuk yang masih bertahan di dunia Arab. Libya agak mirip dengan rezim Soviet di zaman Joseph Stalin. Mata-mata ada di mana-mana, sementara para eksekutor menunggu dan siap menjagal siapa pun yang mengkritik rezim. Qaddafi sendiri tak kalah brutal, apalagi ketika kekuasaannya terancam bahaya.
Pada 1980-an dia pernah membinasakan kelompok oposisi yang disebutnya “anjing-anjing kampung”. Pada 1996 ia pernah membantai 1.000 aktivis. Bahkan rekan-rekan sejawatnya dalam korps “Perwira Bebas” yang melancarkan kudeta 1969 satu per satu dilenyapkan. Beberapa diantaranya mati secara misterius, sebagian lagi mengasingkan diri.
Libya, kata Sadiki, takkan bisa melarikan diri dari infeksi angin revolusi yang bertiup melalui Timur Tengah dan Afrika Utara. “Jika Qaddafi jatuh, maka itu akan menjadi kemenangan manis bagi ahli waris Omar al-Mokhtar, pahlawan anti-fasis dan anti-kolonial yang legendaris. Tapi banyak darah akan tumpah sebelum kolonel itu meninggalkan kapal.” (AFP, Aljazeera, Reuters)